Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Eks Menteri Olahraga China Dihukum Mati Imbas Korupsi Rp556 M

ByAdmin Gelanggang

Dec 10, 2025

Kasus korupsi besar kembali mengguncang pejabat tinggi di Tiongkok setelah mantan Menteri Olahraga China dijatuhi hukuman mati akibat terbukti menerima suap dan melakukan penyalahgunaan wewenang dalam jumlah yang sangat besar. Vonis tegas ini menjadi salah satu hukuman paling berat yang dijatuhkan terhadap pejabat sektor olahraga dalam dua dekade terakhir, menandai semakin kerasnya langkah pemerintah dalam memberantas praktik korupsi yang merusak sektor publik.

Mantan menteri tersebut dilaporkan terlibat dalam jaringan korupsi yang beroperasi selama bertahun-tahun, mencakup manipulasi program olahraga nasional, pemilihan atlet untuk kejuaraan internasional, hingga pengaturan tender pembangunan fasilitas olahraga. Total kerugian negara yang ditimbulkan mencapai lebih dari Rp556 miliar, angka yang membuat publik terperangah dan memicu kemarahan luas. Dalam proses persidangan, ia terbukti menerima suap dari berbagai pihak yang ingin mendapatkan keuntungan politik maupun ekonomi melalui jalur olahraga.

Majelis hakim menyampaikan bahwa vonis mati dijatuhkan karena skala korupsi yang dilakukan tergolong ekstrem dan berdampak signifikan pada citra internasional olahraga Tiongkok. Selain itu, tindakan sang mantan menteri dianggap mengkhianati kepercayaan publik serta merusak struktur pembangunan olahraga nasional. Putusan ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi pejabat lain agar tidak menyalahgunakan jabatan demi kepentingan pribadi.

Menurut dokumen pengadilan, uang suap tersebut diterima dalam berbagai bentuk, mulai dari transfer langsung, hadiah mewah, hingga fasilitas perjalanan ke luar negeri. Selama penyelidikan berlangsung, otoritas China juga menyita sejumlah aset pribadi, termasuk properti dan rekening bank yang diyakini berasal dari hasil korupsi. Selain hukuman mati, negara juga memutuskan untuk menyita seluruh aset yang berhubungan dengan tindak pidana tersebut.

Sementara itu, reaksi publik di Tiongkok beragam. Sebagian mendukung keras langkah pemerintah yang dinilai semakin transparan dan berani menghadapi korupsi di level tertinggi. Namun, sebagian lainnya mempertanyakan apakah hukuman mati masih diperlukan di tengah upaya reformasi hukum modern. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa tindakan ekstrem tersebut diperlukan untuk menegaskan sikap tegas dalam menjaga integritas dan moralitas birokrasi negara.

Di sisi lain, komunitas olahraga internasional turut menyoroti kasus ini karena berdampak pada reputasi global olahraga Tiongkok, terutama menjelang berbagai ajang internasional yang diikuti atlet-atlet negara tersebut. Banyak pihak berharap skandal ini menjadi titik balik bagi reformasi mendalam dalam manajemen olahraga.

Kasus ini juga menambah daftar panjang pejabat tinggi China yang dijerat operasi pemberantasan korupsi berskala nasional. Pemerintah Tiongkok melalui Komisi Disiplin menyatakan akan terus memperluas penyelidikan, termasuk kemungkinan adanya pejabat lain yang turut terlibat.

Dengan vonis ini, Tiongkok kembali mengirim pesan kuat kepada aparat pemerintah bahwa tidak ada ruang bagi praktik korupsi yang merugikan negara dan rakyat. Seperti disebutkan dalam laporan khas Gelanggang News, kasus ini menjadi potret kerasnya pergulatan politik antikorupsi di negeri Tirai Bambu.


Informasi lengkap hanya di: www.gelanggangnews.com