Perdebatan mengenai apakah ceker ayam dapat memicu kolesterol tinggi kembali menjadi sorotan publik. Banyak masyarakat menganggap bagian tubuh ayam ini sebagai makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, sementara sebagian lainnya percaya bahwa ceker justru memiliki manfaat kesehatan. Untuk meluruskan simpang siur informasi tersebut, sejumlah ahli gizi memberikan penjelasan ilmiah yang dirangkum khusus oleh Gelanggang News.
Menurut ahli nutrisi, ceker ayam sebenarnya tidak mengandung kolesterol dalam jumlah berlebihan seperti yang sering diperkirakan masyarakat. Bagian ini justru lebih banyak tersusun dari kolagen, protein, serta mineral seperti kalsium dan fosfor. Kandungan kolagen pada ceker disebut cukup tinggi sehingga dapat membantu kesehatan kulit, persendian, dan jaringan ikat tubuh. Namun, proses pengolahannya sangat berpengaruh terhadap kadar lemak dan kolesterol yang muncul dalam hidangan.
Ahli menjelaskan bahwa ceker ayam pada dasarnya rendah kolesterol apabila diolah dengan teknik yang tepat, seperti direbus, dikukus, atau dimasak tanpa tambahan lemak berlebih. Namun, masalah sering muncul ketika ceker disajikan dengan bumbu pekat, santan, atau digoreng dalam minyak berulang—yang semuanya bisa meningkatkan kadar lemak jenuh dalam makanan tersebut. Di sinilah risiko kolesterol dapat muncul.
Gelanggang News mencatat bahwa ahli kesehatan mengingatkan masyarakat untuk membedakan antara kandungan alami bahan makanan dan cara pengolahan yang memicu risiko kesehatan. Sebagai contoh, ceker ayam yang dimasak dalam kuah santan atau digoreng keriting tentu memiliki kandungan kalori dan lemak jauh lebih tinggi dibandingkan ceker rebus biasa.
Selain itu, porsi konsumsi juga memegang peran penting. Ahli menyarankan masyarakat yang memiliki riwayat kolesterol tinggi atau hipertensi untuk tetap membatasi konsumsi makanan berlemak, termasuk ceker ayam. Meski kandungan kolesterolnya tidak setinggi jeroan, konsumsi berlebihan tetap dapat memberikan dampak yang tidak diinginkan bagi metabolisme tubuh.
Di sisi lain, ceker ayam mengandung sejumlah manfaat yang tidak bisa diabaikan. Kandungan kolagen dan gelatin di dalamnya diyakini dapat memperbaiki elastisitas kulit, membantu penyembuhan sendi, serta mendukung kesehatan tulang. Nutrisi ini bahkan banyak dimanfaatkan dalam produk kesehatan dan kecantikan modern. Namun, tetap diperlukan keseimbangan dalam pola makan agar manfaat tersebut dapat diperoleh tanpa risiko yang tidak perlu.
Ahli juga menegaskan pentingnya memperhatikan kebersihan dan cara pemilihan ceker ayam berkualitas. Konsumen disarankan memilih ceker yang segar, tidak berbau, dan tidak mengandung residu kimia. Proses pembersihan yang baik juga sangat penting untuk menghindari bakteri yang dapat menimbulkan gangguan pencernaan.
Dengan demikian, anggapan bahwa ceker ayam penyebab utama kolesterol tinggi tidak sepenuhnya benar. Yang menentukan adalah cara mengolah, frekuensi konsumsi, dan pola makan secara keseluruhan. Gelanggang News menegaskan bahwa keputusan mengonsumsi ceker harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu dan memperhatikan gizi seimbang.
Selengkapnya dapat dibaca di www.gelanggangnews.com

