Jakarta – Saham perbankan terbesar di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), menjadi sorotan pasar modal setelah mengalami tekanan jual signifikan dari investor asing. Tercatat, BBCA jadi target utama net sell asing, sentuh level terendah 4 bulan pada perdagangan Selasa (26/8/2025).
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, aksi jual bersih (net sell) asing pada saham BBCA mencapai ratusan miliar rupiah dalam sehari. Kondisi ini membuat harga saham BBCA terkoreksi hingga menyentuh level terendah dalam empat bulan terakhir. Penurunan tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas saham sektor perbankan, khususnya di tengah volatilitas pasar global.
Analis pasar modal, Andi Gunawan, menjelaskan bahwa faktor eksternal menjadi penyebab utama tekanan pada saham BBCA. “Kekhawatiran resesi global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mendorong investor asing melakukan aksi profit taking. Akibatnya, BBCA jadi target utama net sell asing, sentuh level terendah 4 bulan,” kata Andi kepada wartawan di Jakarta.
Selain faktor global, tren melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menambah tekanan pada saham perbankan. BBCA, sebagai salah satu saham berkapitalisasi besar, paling merasakan dampak dari aksi keluar dana asing. Meski demikian, kinerja fundamental perseroan dinilai masih solid, dengan catatan laba bersih yang terus tumbuh.

Investor ritel domestik terlihat berusaha menahan laju penurunan dengan melakukan aksi beli, meskipun tidak mampu menutup gap yang ditinggalkan investor asing. “Aksi jual asing ini lebih bersifat jangka pendek. Namun, persepsi pasar sangat dipengaruhi sentimen global. Itu sebabnya BBCA menjadi pilihan pertama ketika investor asing melakukan penyesuaian portofolio,” tambah Andi.
Direktur Riset Indo Capital Sekuritas, Maya Kartika, menilai bahwa meskipun saat ini BBCA jadi target utama net sell asing, sentuh level terendah 4 bulan, koreksi ini dapat menjadi peluang bagi investor domestik. “Koreksi harga BBCA membuka ruang akumulasi, apalagi prospek sektor perbankan Indonesia masih cukup cerah dalam jangka menengah,” ujarnya.
Sejumlah analis juga memperkirakan tekanan jual ini tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, kondisi likuiditas BBCA masih sangat kuat dengan basis nasabah yang besar serta tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi. Di sisi lain, prospek pertumbuhan kredit dan digitalisasi layanan perbankan dipandang tetap menjadi daya tarik investor.
Namun demikian, sentimen jangka pendek diperkirakan masih akan membayangi pergerakan saham BBCA dalam beberapa pekan ke depan. Investor diminta berhati-hati terhadap fluktuasi pasar dan memantau perkembangan faktor global yang bisa mempengaruhi aliran modal asing.
Dengan kondisi saat ini, para pelaku pasar terus menunggu sinyal positif dari faktor eksternal, termasuk kebijakan moneter Amerika Serikat, untuk melihat apakah aksi jual asing akan mereda. Sementara itu, fokus investor dalam negeri adalah memanfaatkan momentum koreksi untuk akumulasi saham unggulan seperti BBCA.
Situasi BBCA jadi target utama net sell asing, sentuh level terendah 4 bulan menunjukkan bahwa pergerakan saham berkapitalisasi besar tetap rentan terhadap sentimen global. Meski fundamental kuat, arus modal asing tetap menjadi penentu arah jangka pendek.
Untuk berita terbaru seputar saham, investasi, dan ekonomi nasional, pembaca dapat mengunjungi www.gelanggangnews.com sebagai sumber informasi terpercaya.

