AS Tanam Pelacak di Chip AI Ekspor untuk Hadang China

Washington, D.C. — Amerika Serikat dikabarkan telah menanamkan sistem pelacak khusus dalam chip kecerdasan buatan (AI) yang diekspor ke luar negeri, termasuk ke pasar Asia. Langkah ini diyakini sebagai bagian dari strategi AS tanam pelacak di chip AI ekspor untuk hadang China, di tengah meningkatnya persaingan teknologi antara dua negara adidaya tersebut.

Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh sejumlah media teknologi internasional yang mengutip sumber dari Departemen Perdagangan AS. Pemerintah AS disebut mulai menerapkan langkah tersebut sejak pertengahan 2024, dengan tujuan utama memantau dan membatasi penggunaan chip canggih oleh negara-negara yang dianggap berisiko, terutama China.

“Pelacak digital yang ditanam di chip ini memungkinkan AS mengetahui keberadaan dan pola penggunaan perangkat keras tersebut, sehingga dapat mencegah penyalahgunaan untuk kepentingan militer atau proyek teknologi yang berseberangan dengan kepentingan keamanan nasional,” ujar seorang pejabat anonim dalam laporan tersebut.

Langkah AS tanam pelacak di chip AI ekspor untuk hadang China ini menimbulkan reaksi beragam dari komunitas internasional. Beberapa pihak menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk kontrol berlebihan terhadap aliran teknologi global, sementara lainnya menganggapnya sebagai tindakan preventif yang sah dalam menghadapi potensi ancaman strategis dari Beijing.

Chip yang dimaksud sebagian besar merupakan produk dari perusahaan-perusahaan besar AS seperti NVIDIA dan AMD, yang selama ini memasok chip AI berteknologi tinggi ke pasar internasional, termasuk ke pusat data dan institusi riset di Asia.

China, melalui Kementerian Luar Negerinya, menyatakan keberatan terhadap kebijakan ini dan menyebutnya sebagai bentuk “hegemonisme digital.” Dalam pernyataan resminya, China mendesak AS untuk menghentikan pembatasan ekspor dan menyatakan bahwa langkah ini hanya akan mendorong China untuk mempercepat swasembada teknologi.

“AS tanam pelacak di chip AI ekspor untuk hadang China menunjukkan bahwa Washington tidak sepenuhnya mempercayai pasar global. Ini adalah bentuk intervensi terselubung yang merusak prinsip perdagangan bebas,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China.

Pakar keamanan siber internasional memperkirakan bahwa kehadiran pelacak tersebut akan memperluas kemampuan intelijen AS dalam memantau aktivitas teknologi di negara-negara rival. Namun, mereka juga memperingatkan risiko bocornya sistem pelacakan ini, yang bisa menimbulkan masalah etika dan hukum jika jatuh ke tangan yang salah.

Langkah ini juga dikhawatirkan akan memperdalam fragmentasi ekosistem teknologi global, memaksa negara-negara untuk memilih antara blok teknologi yang dipimpin AS atau China.

Sebagai informasi, ketegangan antara AS dan China dalam sektor AI, semikonduktor, dan teknologi kuantum telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, dengan kedua belah pihak terus memperketat kebijakan ekspor dan kerja sama internasional.

Untuk informasi lebih lanjut seputar teknologi dan geopolitik global, ikuti terus pemberitaan terkini hanya di www.gelanggangnews.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *