Gaza – Upaya gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu. Setelah kegagalan kesepakatan tersebut, militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah padat penduduk di Jalur Gaza.
Pada Senin (2/6), serangan udara Israel menghantam kamp pengungsi Jabaliya di Gaza Utara. Sedikitnya 14 orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk perempuan dan anak-anak. Insiden ini menjadi bagian dari rangkaian kekerasan yang terus meningkat di wilayah tersebut.
Sementara itu di Gaza Selatan, pasukan Israel juga dilaporkan melepaskan tembakan ke arah warga sipil yang tengah mengantre bantuan kemanusiaan. Tiga orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
AS sebelumnya menawarkan skema gencatan senjata selama 60 hari yang disertai dengan peningkatan bantuan kemanusiaan. Meski Israel menyatakan setuju dengan usulan itu, Hamas menolak karena tidak mencakup syarat utama mereka, termasuk penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza dan jaminan penghentian permanen agresi militer.
Sejumlah organisasi internasional dan lembaga kemanusiaan mengkritik mekanisme distribusi bantuan di Gaza yang dianggap diskriminatif dan tidak memadai. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperingatkan bahwa kelangkaan bahan pangan akibat blokade dapat menimbulkan bencana kelaparan besar.
Sejak meletusnya konflik pada Oktober 2023, lebih dari 54.000 warga Palestina dilaporkan tewas, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Israel mengklaim telah menewaskan lebih dari 20.000 anggota militan Hamas sepanjang operasi militernya.
Meskipun tekanan internasional terus meningkat, baik Israel maupun Hamas belum menunjukkan tanda-tanda melunak. Israel tetap menuntut pelucutan senjata Hamas dan pembebasan semua sandera, sementara Hamas bersikeras pada pembentukan negara Palestina dan diakhirinya pendudukan wilayah.
Selengkapnya kunjungi: https://gelanggangnews.com











