Depok, Gelanggang News – Sabtu pagi yang cerah di Cilodong menjadi saksi langkah besar 100 pelajar muda asal Depok. Dengan seragam lengkap dan ransel di punggung, mereka berbaris rapi—bukan menuju sekolah, melainkan ke barak militer. Bukan untuk dihukum, tapi untuk dilatih menjadi pribadi tangguh dalam program Pembinaan Karakter dan Bela Negara yang diinisiasi Pemerintah Kota Depok.
Program ini bukan hal biasa. Di balik pagar barak Divisi Infanteri 1 Kostrad, semangat perubahan tengah digodok. Sebanyak 75 siswa laki-laki dan 25 siswi perempuan yang berusia 13–15 tahun akan menjalani pelatihan selama 10 hari. Mulai dari kedisiplinan, cinta tanah air, hingga pembelajaran akademik tetap dikawal ketat oleh Dinas Pendidikan.
“Bukan Anak Nakal, Tapi Anak Potensial”
Label “anak bermasalah” yang sempat melekat pada program ini ditepis oleh Kepala Bakesbangpol Kota Depok, Herry Budiman. “Mereka bukan anak nakal. Mereka anak-anak potensial yang butuh ruang, bimbingan, dan keteladanan. Barak ini bukan tempat menghukum, tapi tempat menempa,” ujarnya.
Pernyataan ini diamini oleh salah satu peserta, Raka (14), yang mengaku semangat mengikuti pelatihan. “Awalnya takut, tapi sekarang malah semangat. Di sini kita dilatih bangun pagi, kerja sama, dan belajar lebih fokus,” katanya sambil tersenyum malu.
Respons Orang Tua dan Ledakan Pendaftar
Tak disangka, animo masyarakat begitu tinggi. Dari kuota awal 50 peserta, pendaftar membeludak hingga 378 orang. Banyak orang tua secara sukarela mendaftarkan anak mereka agar lebih disiplin, terutama di era gawai dan media sosial yang membuat anak sulit lepas dari layar.
“Daripada anak main HP terus, saya pikir lebih baik ikut kegiatan seperti ini. Biar tahu rasa susah, biar tahu kerja sama, dan lebih hormat sama orang tua,” kata Siti Rahmah, ibu dari salah satu peserta.
Menuai Sorotan, Menuai Harapan
Meski menuai pujian, tak sedikit juga kritik bermunculan. KPAI dan FSGI mengingatkan soal pendekatan militer yang bisa berdampak negatif pada psikologis anak. Namun Wali Kota Depok, Supian Suri, tetap meyakini langkah ini tepat sebagai alternatif pendidikan karakter.
“Kita tidak mendidik dengan kekerasan. Ini pembinaan yang manusiawi, terukur, dan diawasi langsung. Anak-anak tidak hanya dibentuk fisik, tapi juga hatinya,” tegasnya.
Program ini menjadi cermin kegelisahan sekaligus harapan: bahwa pendidikan karakter tak melulu ada di dalam kelas. Kadang, karakter lahir dari barak—di mana disiplin, empati, dan kepemimpinan diuji dalam praktik nyata.
📍 Ikuti terus update seputar Kota Depok hanya di gelanggangnews.com
