GELANGGANG NEWS — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan positif. Sejumlah kelompok ekstrem, mulai dari jaringan terorisme seperti ISIS hingga kelompok neo-Nazi, dilaporkan mulai menggunakan AI sebagai alat baru untuk menyebarkan propaganda dan memperluas pengaruh ideologi mereka.
Pemanfaatan AI ini dinilai semakin canggih dan sulit dikenali. Kelompok ekstrem memanfaatkan teknologi tersebut untuk membuat konten visual, audio, hingga teks propaganda yang tampak lebih profesional, persuasif, dan meyakinkan. Bahkan, sebagian materi dibuat menyerupai konten berita, edukasi, atau hiburan agar lebih mudah diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda.
AI digunakan untuk memproduksi gambar dan video manipulatif, termasuk wajah dan suara buatan yang menyerupai tokoh tertentu. Selain itu, teknologi ini juga dimanfaatkan untuk membuat narasi propaganda secara massal dalam berbagai bahasa, sehingga pesan ekstrem dapat menjangkau audiens lintas negara dengan cepat.
Tak hanya itu, algoritma AI juga dimanfaatkan untuk menganalisis tren media sosial dan perilaku pengguna internet. Dengan cara ini, kelompok ekstrem dapat menargetkan propaganda mereka kepada kelompok rentan, seperti individu yang merasa terasing, kecewa terhadap kondisi sosial, atau tengah mencari identitas diri.
Pakar keamanan menilai fenomena ini sebagai tantangan serius di era digital. Propaganda berbasis AI dinilai lebih halus dan tidak selalu menampilkan simbol kekerasan secara terang-terangan. Akibatnya, masyarakat awam berisiko terpapar tanpa menyadari bahwa konten yang dikonsumsi mengandung pesan radikal atau kebencian.
Pemerintah dan pemangku kepentingan di bidang keamanan siber terus meningkatkan upaya pemantauan dan penindakan terhadap penyalahgunaan AI oleh kelompok ekstrem. Namun, peran masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam menangkal penyebaran propaganda digital.
Masyarakat diimbau untuk lebih kritis terhadap informasi yang beredar di media sosial dan platform digital. Verifikasi konten, memahami konteks informasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang mengandung kebencian atau ajakan ekstrem menjadi langkah penting untuk melindungi diri dari pengaruh negatif teknologi.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, kewaspadaan dan literasi digital menjadi benteng utama agar teknologi tidak disalahgunakan untuk merusak tatanan sosial dan keamanan global.
Ikuti perkembangan berita nasional dan internasional terkini hanya dihttps://www.gelanggangnews.com/













