Gelanggang News — Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menciptakan gelombang kontroversi setelah melontarkan pernyataan bernada kasar terhadap komunitas imigran Somalia di AS. Dalam sebuah acara kampanye yang berlangsung panas, Trump menyebut sebagian imigran asal Somalia sebagai “sampah”, pernyataan yang langsung mengundang kecaman luas dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk aktivis hak asasi manusia dan tokoh-tokoh politik dari kedua partai besar.
Pernyataan tersebut muncul ketika Trump membahas soal kebijakan imigrasi yang menurutnya harus “dibersihkan total”. Trump menuding sejumlah imigran Somalia sebagai penyebab meningkatnya kejahatan di beberapa kota Amerika, meski pernyataan itu tidak disertai data formal. Gaya retorika Trump yang frontal dan agresif kembali memantik perdebatan tajam, menghidupkan suasana kampanye yang sebelumnya telah dipenuhi tensi politik tinggi di tengah persiapan pemilu mendatang.
Komunitas Somalia di Amerika Serikat bereaksi keras atas komentar tersebut. Banyak tokoh diaspora Somalia mengecam ucapan Trump sebagai bentuk penghinaan rasial yang dapat memicu diskriminasi dan kekerasan. Mereka menegaskan bahwa komunitas Somalia justru berkontribusi besar dalam sektor pelayanan publik, bisnis kecil, hingga tenaga kesehatan — khususnya saat masa pandemi.
Beberapa analis politik menilai bahwa komentar Trump ini bukan sekadar luapan emosi, tetapi strategi politik yang sengaja dimainkan untuk menggalang dukungan kelompok pemilih tertentu yang menyukai retorika keras anti-imigrasi. Menurut pengamat, Trump tengah mencoba membangun kembali fondasi populisme yang mengantarnya menang pada 2016, yaitu memanfaatkan ketakutan dan polarisasi sosial.
Namun demikian, pernyataan tersebut juga dinilai berpotensi menjadi bumerang. Anggota Partai Demokrat menyebut ucapan Trump sebagai bukti bahwa ia tidak layak kembali memegang jabatan publik. Sementara sebagian Republikan memilih diam, khawatir komentar itu dapat merugikan elektabilitas partai secara keseluruhan.
Di berbagai negara bagian yang memiliki konsentrasi komunitas imigran Afrika Timur, reaksi masyarakat cukup kuat. Banyak organisasi melakukan kampanye solidaritas dan menuntut Trump meminta maaf secara terbuka. Hingga kini, Trump belum memberikan klarifikasi atau koreksi atas ucapannya.
Kasus ini kembali menunjukkan bagaimana retorika politik dapat menciptakan luka sosial yang dalam, terutama ketika menyasar kelompok minoritas. Bagi komunitas Somalia di AS, pernyataan ini bukan hanya penghinaan verbal, tetapi juga ancaman yang dapat memicu diskriminasi nyata di kehidupan sehari-hari.
Kunjungi kami di: www.gelanggangnews.com









