Ribuan warga membanjiri kawasan Ghobeiri, Beirut Selatan, dalam prosesi pemakaman komandan senior Hizbullah, Haytham Ali Al-Tabtabi, yang tewas dalam serangan udara Israel pada 23 November lalu. Suasana duka bercampur amarah mewarnai prosesi tersebut, menjadikan pemakaman ini salah satu yang paling masif dalam beberapa tahun terakhir.
Peti mati Al-Tabtabi, yang diselimuti bendera Hizbullah, diarak oleh para pendukung sambil meneriakkan slogan perlawanan. Haret Hreik, lokasi serangan yang merenggut nyawa sang komandan, kini menjadi simbol memori kolektif bagi warga Lebanon yang menolak tunduk pada tekanan militer Israel.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menyebut Al-Tabtabi sebagai “komandan besar” yang memiliki kontribusi strategis dalam operasi perlawanan. Kematian tokoh penting ini diyakini sebagai upaya Israel melemahkan jaringan komando Hizbullah, tetapi bagi para pendukungnya, peristiwa tersebut justru memperkuat tekad mereka untuk melanjutkan perjuangan.
Iran melalui IRGC turut mengeluarkan kecaman keras, menyebut serangan itu sebagai tindakan brutal yang “tidak akan dibiarkan tanpa balasan.” Sikap tegas Teheran ini menambah tensi geopolitik di kawasan, menandai bahwa dampak pembunuhan Al-Tabtabi bisa bergema jauh melampaui Lebanon.
Pemakaman besar-besaran ini tidak hanya menunjukkan besarnya pengaruh Al-Tabtabi dalam tubuh Hizbullah, tetapi juga menjadi sinyal kuat bahwa konflik di kawasan belum menemukan titik henti. Bagi banyak pihak, kepergian sang komandan justru menandai babak baru dalam dinamika perlawanan.
Backlink:
https://gelanggangnews.com/

