Banyak orang yang kesulitan menurunkan berat badan sering kali mengatakan bahwa mereka memiliki “tulang besar” — sebuah istilah populer untuk menjelaskan mengapa tubuh tetap tampak berisi meski sudah berusaha diet dan berolahraga. Namun, apakah benar ukuran tulang bisa menjadi penyebab utama seseorang sulit menurunkan berat badan? Ataukah itu hanya mitos yang terus dipercaya tanpa dasar ilmiah?
Menurut para ahli gizi dan dokter ortopedi, klaim “tulang besar” memang memiliki sedikit dasar ilmiah, tetapi tidak sepenuhnya benar jika dijadikan alasan utama kenaikan berat badan. Ukuran dan kepadatan tulang memang berbeda-beda antara individu, namun perbedaannya tidak cukup signifikan untuk menjelaskan perbedaan berat tubuh yang besar.
Dr. Aulia Rahman, SpKO, seorang dokter spesialis kedokteran olahraga, menjelaskan bahwa berat tulang manusia rata-rata hanya sekitar 15% dari total berat badan. Dengan demikian, meskipun seseorang memiliki tulang yang lebih padat atau lebih besar, perbedaan beratnya hanya berkisar antara 2–3 kilogram — bukan 10 kilogram atau lebih seperti yang sering diyakini masyarakat.
“Memang benar ada variasi struktur tubuh seperti ‘frame size’, yaitu ukuran rangka tubuh kecil, sedang, atau besar. Tapi ukuran tulang besar tidak bisa menjadi alasan utama seseorang gemuk. Faktor dominan tetap ada pada komposisi lemak dan massa otot,” jelas Dr. Aulia kepada Gelanggang News.
Struktur Tubuh vs Komposisi Lemak
Istilah “tulang besar” sebenarnya sering kali digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki postur tubuh besar, bukan tulang yang benar-benar lebih berat. Dalam dunia medis, perbedaan bentuk tubuh diklasifikasikan menjadi tiga tipe utama: ectomorph (ramping), mesomorph (berotot), dan endomorph (berisi).
Tipe endomorph, misalnya, cenderung memiliki metabolisme yang lebih lambat dan mudah menyimpan lemak, sehingga tampak lebih besar secara fisik. Namun, kondisi ini lebih disebabkan oleh genetika dan gaya hidup, bukan karena ukuran tulang itu sendiri.
Menurut penelitian dari American Journal of Clinical Nutrition, seseorang dengan tulang besar hanya memiliki kelebihan berat tulang sekitar 3–5% dibanding individu bertulang kecil. Artinya, faktor yang paling berpengaruh terhadap berat badan tetaplah pola makan, tingkat aktivitas fisik, dan kebiasaan tidur.
Faktor Psikologis di Balik Mitos “Tulang Besar”
Menariknya, banyak ahli psikologi menilai bahwa mitos ini sering digunakan sebagai bentuk mekanisme pembenaran diri (self-justification). Dengan menyalahkan ukuran tulang, seseorang merasa lebih tenang terhadap kondisi berat badannya dan tidak terlalu terdorong untuk mengubah gaya hidup.
Padahal, menurut data WHO, lebih dari 70% kasus kelebihan berat badan disebabkan oleh konsumsi kalori berlebih dan kurangnya aktivitas fisik, bukan faktor anatomi.
“Masyarakat sering kali menggunakan istilah ‘tulang besar’ sebagai tameng psikologis. Padahal, perubahan berat badan bisa dilakukan jika disiplin menjalankan defisit kalori dan olahraga teratur,” ujar Dr. Aulia menambahkan.
Cara Tepat Mengelola Berat Badan
Untuk menurunkan berat badan secara sehat, para ahli menyarankan kombinasi antara pola makan seimbang, latihan kardio, latihan beban, dan tidur cukup. Fokus utama bukanlah mengecilkan “tulang besar”, tetapi mengurangi lemak tubuh secara bertahap.
Selain itu, penting untuk mengukur komposisi tubuh (body composition), bukan sekadar angka di timbangan. Alat seperti body fat analyzer dapat membantu menentukan persentase lemak, otot, dan air dalam tubuh — sehingga hasilnya lebih akurat daripada sekadar menilai dari berat badan.
“Kalau kita paham bahwa tulang besar bukan penyebab utama, kita jadi bisa lebih fokus pada perubahan pola hidup. Dengan pendekatan ilmiah, penurunan berat badan bukan hal mustahil,” tutur Dr. Aulia menutup wawancara.
Kesimpulan
Mitos tentang “tulang besar” memang masih sering dipercaya, namun secara ilmiah tidak sepenuhnya benar. Tulang berperan kecil terhadap berat badan total, sementara faktor yang paling menentukan tetaplah lemak tubuh dan kebiasaan hidup.
Dengan disiplin menjaga pola makan dan berolahraga, siapapun bisa mencapai berat badan ideal tanpa menyalahkan struktur tulang.
Baca berita dan artikel kesehatan terkini hanya di www.gelanggangnews.com











