Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa warga Gaza kini membutuhkan “banjir makanan dan bantuan kemanusiaan besar-besaran” segera setelah gencatan senjata mulai berlaku antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina. Pernyataan ini muncul di tengah laporan krisis pangan yang semakin parah akibat blokade berkepanjangan dan kehancuran besar pada infrastruktur logistik di Jalur Gaza.
Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Wilayah Palestina, Lynn Hastings, menyebut bahwa situasi di Gaza telah mencapai titik kritis. Menurutnya, selama berbulan-bulan konflik, distribusi bahan pangan dan obat-obatan nyaris terhenti, menyebabkan ratusan ribu warga sipil menghadapi kelaparan ekstrem.
“Gencatan senjata bukan akhir dari penderitaan warga Gaza. Ini baru awal dari perjuangan untuk hidup. Kami membutuhkan banjir bantuan makanan, air, dan bahan bakar untuk memulihkan kehidupan di sini,” ujar Hastings dalam konferensi pers di Jenewa, Jumat (18/10).
PBB memperkirakan bahwa lebih dari 80% populasi Gaza kini bergantung sepenuhnya pada bantuan internasional. Namun, akses menuju wilayah tersebut masih sangat terbatas akibat rusaknya jalur transportasi dan hambatan administratif yang masih diberlakukan di perbatasan.
Lembaga Pangan Dunia (WFP) mencatat bahwa lebih dari 1,5 juta warga Gaza kini hidup tanpa pasokan pangan memadai. Banyak keluarga terpaksa bertahan hidup hanya dengan sepotong roti setiap hari. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya bahan bakar untuk memasak dan kekurangan air bersih akibat hancurnya sistem sanitasi.
PBB dan badan kemanusiaan lainnya menyerukan agar semua pihak segera membuka jalur logistik kemanusiaan melalui perbatasan Rafah dan Kerem Shalom. Mereka menegaskan bahwa tanpa pembukaan penuh jalur tersebut, bantuan yang masuk tidak akan cukup untuk menutupi kebutuhan dasar jutaan warga.
Selain masalah pangan, sektor kesehatan Gaza juga menghadapi kehancuran total. Rumah sakit yang masih beroperasi kini kewalahan menampung ribuan korban luka dan pasien penyakit kronis. Banyak fasilitas medis tidak lagi memiliki pasokan listrik atau air, memaksa tenaga medis bekerja dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
“Kita tidak hanya membutuhkan bantuan darurat, tapi juga sistem logistik yang berkelanjutan. Tanpa itu, gencatan senjata ini hanya akan menunda krisis kemanusiaan yang lebih besar,” tambah Hastings.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa dunia internasional tidak boleh mengabaikan penderitaan rakyat Gaza. Ia menyerukan kepada negara-negara donor untuk segera menyalurkan dana tambahan guna memperkuat operasi kemanusiaan di wilayah tersebut.
“Rakyat Gaza membutuhkan lebih dari sekadar roti dan air. Mereka membutuhkan harapan dan jaminan hidup layak setelah bertahun-tahun penderitaan,” kata Guterres.
Sejumlah negara, termasuk Mesir, Turki, dan Qatar, dilaporkan telah menyiapkan konvoi bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar. Namun, proses distribusi masih menghadapi tantangan karena banyak jalan utama di Gaza hancur akibat serangan udara.
Para analis menilai, kebutuhan “banjir makanan” yang diminta PBB menggambarkan betapa parahnya kondisi di lapangan. Banyak wilayah Gaza kini praktis terisolasi, dengan warga terpaksa menggali reruntuhan untuk mencari bahan makanan atau air bersih.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa jika distribusi bantuan tidak segera berjalan efektif, Gaza dapat menghadapi kelaparan massal terbesar dalam sejarah modern Timur Tengah.
PBB menutup pernyataannya dengan desakan agar semua pihak, termasuk Israel, menghormati hukum kemanusiaan internasional dan menjamin keamanan bagi pekerja kemanusiaan. Gencatan senjata, kata PBB, harus menjadi momentum untuk membuka kembali akses penuh bagi bantuan dan rekonstruksi.
Info berita internasional selengkapnya hanya di www.gelanggangnews.com

