JAKARTA — Nasib pelatih kepala Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, tengah menjadi sorotan publik sepak bola nasional setelah hasil mengecewakan yang diraih skuad Garuda dalam ajang Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Seruan agar Kluivert dicopot dari jabatannya menggema di berbagai platform media sosial, sementara PSSI diminta segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa tim.
Dalam tiga laga terakhir, Indonesia hanya mampu meraih satu kali imbang dan dua kali kalah, membuat posisi tim terpuruk di dasar klasemen grup. Kekalahan terakhir melawan tim yang secara peringkat FIFA berada di bawah Indonesia menjadi titik puncak kemarahan suporter. Banyak pihak menilai gaya permainan yang diterapkan Kluivert tidak sesuai dengan karakter pemain Indonesia yang mengandalkan kecepatan dan kreativitas.
Publik menyoroti taktik Kluivert yang dianggap terlalu kaku dan tidak adaptif terhadap situasi lapangan. Dalam beberapa pertandingan, Indonesia terlihat kesulitan membangun serangan dan kerap kehilangan bola di lini tengah. “Kluivert gagal membaca permainan lawan. Ia seperti masih menerapkan pola sepak bola Eropa tanpa menyesuaikan kemampuan pemain lokal,” ujar pengamat sepak bola nasional Robby Darwis kepada Gelanggang News.
Sejak ditunjuk sebagai pelatih pada pertengahan 2024, Kluivert datang dengan reputasi besar sebagai mantan bintang Barcelona dan Ajax Amsterdam. PSSI menaruh harapan tinggi bahwa pengalaman internasionalnya dapat membawa Timnas Indonesia ke level lebih tinggi. Namun, setelah hampir satu tahun menjabat, hasil di lapangan belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Di sisi lain, sejumlah pemain senior dikabarkan mulai kehilangan kepercayaan terhadap metode latihan sang pelatih. Beberapa di antaranya menyebut sesi latihan terlalu monoton dan tidak memberikan variasi strategi yang cukup untuk menghadapi lawan tangguh di Asia. Meskipun isu ini belum dikonfirmasi secara resmi, desas-desus di kalangan internal tim memperkuat opini publik bahwa ruang ganti Timnas tidak lagi harmonis.
Menanggapi kritik yang mengalir deras, Kluivert menegaskan bahwa dirinya masih berkomitmen untuk memperbaiki performa tim. “Kami sedang berada dalam fase transisi. Butuh waktu dan kesabaran agar sistem ini berjalan maksimal. Saya percaya dengan para pemain dan staf yang bekerja keras setiap hari,” ujarnya dalam konferensi pers usai laga terakhir.
Sementara itu, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi total terhadap kinerja timnas dan seluruh jajaran pelatih. “Kami menghargai kerja keras semua pihak, tapi hasil juga menjadi ukuran. Kami akan duduk bersama, membahas masa depan Timnas Indonesia dengan kepala dingin,” ungkap Erick.
Para pengamat menilai, keputusan apakah Kluivert layak dipertahankan atau tidak harus berdasarkan analisis objektif, bukan semata tekanan publik. Jika memang sistem yang dibangun membutuhkan waktu, PSSI perlu memberikan jaminan dukungan jangka panjang. Namun, jika arah permainan dan hasil tidak kunjung membaik, pergantian pelatih dianggap langkah realistis.
Sebagian fans mengusulkan agar posisi pelatih dikembalikan kepada sosok yang lebih memahami kultur sepak bola Indonesia. Nama-nama seperti Shin Tae-yong, Indra Sjafri, hingga Jacksen F. Tiago kembali muncul dalam diskusi publik sebagai kandidat pengganti potensial.
Kini, publik menantikan langkah resmi PSSI dalam beberapa pekan ke depan. Apakah Kluivert masih diberi kesempatan untuk memperbaiki situasi, atau justru harus angkat kaki lebih cepat dari kursi pelatih Timnas Indonesia.
Satu hal yang pasti — Timnas membutuhkan arah yang jelas dan stabilitas di tengah tingginya ekspektasi publik. Karena bagi jutaan pendukung Garuda, merah putih di dada lebih penting daripada nama besar siapa pun di pinggir lapangan.
Baca berita dan analisis sepak bola terkini hanya di www.gelanggangnews.com.

