Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Analisis BMKG Penyebab Gempa Dangkal M 6,5 Guncang Nabire Papua Tengah

ByAdmin Gelanggang

Sep 19, 2025

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis hasil analisis terkait gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,5 yang mengguncang wilayah Nabire, Papua Tengah, pada Kamis pagi. Gempa dangkal tersebut sempat menimbulkan kepanikan warga karena guncangan terasa kuat di sejumlah daerah sekitar episentrum.

Menurut BMKG, gempa M 6,5 yang mengguncang Nabire Papua Tengah terjadi pada kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer. Pusat gempa berada di darat, tepatnya di koordinat 3,55 Lintang Selatan dan 135,85 Bujur Timur. Karakteristik gempa menunjukkan adanya aktivitas tektonik akibat deformasi kerak bumi pada zona sesar aktif di wilayah Papua Tengah.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa hasil mekanisme sumber menunjukkan gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar mendatar (strike-slip fault). Pergerakan sesar ini merupakan fenomena alam yang cukup sering terjadi di wilayah Papua karena daerah ini berada di zona tumbukan antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Indo-Australia.

BMKG menegaskan bahwa gempa dangkal M 6,5 di Nabire tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang dapat terjadi. “Hingga saat ini, hasil monitoring BMKG mencatat sejumlah gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil. Kami mengimbau masyarakat untuk menjauhi bangunan retak atau rusak yang berpotensi roboh,” ujar pernyataan resmi BMKG.

Selain di Nabire, guncangan gempa juga dilaporkan terasa hingga ke Kabupaten Dogiyai, Paniai, dan beberapa wilayah lain di Papua Tengah. Sejumlah warga mengaku berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri saat gempa terjadi. Laporan sementara menyebutkan adanya kerusakan ringan pada beberapa bangunan, namun belum ada laporan korban jiwa.

Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Tengah telah menurunkan tim untuk melakukan pendataan kerusakan dan memastikan kondisi masyarakat terdampak. Evakuasi dilakukan terutama di kawasan dengan bangunan yang mengalami retak parah. Sejumlah warga juga memilih mendirikan tenda darurat untuk berjaga-jaga jika terjadi gempa susulan.

BMKG menekankan pentingnya edukasi mitigasi gempa di daerah rawan bencana seperti Papua. “Wilayah Papua memang termasuk daerah dengan tingkat seismisitas tinggi. Oleh karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri dengan langkah-langkah penyelamatan dini ketika gempa terjadi, seperti mencari tempat aman, menjauhi bangunan tinggi, dan mempersiapkan tas darurat,” kata BMKG.

Hingga kini, tim gabungan terus melakukan pemantauan. BMKG juga mengingatkan agar masyarakat hanya mempercayai informasi resmi dari lembaga terkait dan tidak mudah terpancing isu atau kabar bohong di media sosial.

Dengan kejadian ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya gempa dangkal semakin meningkat. BMKG menegaskan bahwa pihaknya akan terus memberikan informasi terkini mengenai aktivitas seismik di Papua Tengah, khususnya di Nabire dan sekitarnya.

Tulisan ini dipersembahkan untuk Gelanggang News. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui www.gelanggangnews.com.