Jakarta – Pemerintah kembali menegaskan komitmennya terhadap Program Sapi Perah: Indonesia tekan sektor bisnis untuk cari satu juta sapi dalam lima tahun ke depan. Program ini menjadi bagian dari upaya besar senilai Rp45 triliun untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri sekaligus mendukung program makanan bergizi gratis bagi ibu hamil, anak sekolah, dan masyarakat rentan.
Hingga pertengahan 2025, realisasi program masih jauh dari target. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, baru sekitar 11 ribu ekor sapi perah yang berhasil didatangkan, jauh dari rencana ambisius mendatangkan satu juta ekor. Kondisi ini membuat pemerintah semakin serius menekan sektor swasta untuk lebih berperan aktif dalam menyukseskan program.
Menteri Pertanian menyatakan, keterlibatan dunia usaha menjadi kunci. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Sektor bisnis harus mengambil bagian. Program Sapi Perah: Indonesia tekan sektor bisnis untuk cari satu juta sapi adalah proyek nasional yang membutuhkan sinergi lintas sektor,” ujarnya di Jakarta, Senin (15/9).
Para pelaku industri susu domestik menyambut baik inisiatif ini, namun mereka menyoroti sejumlah kendala. Salah satunya adalah biaya impor sapi yang tinggi dan keterbatasan infrastruktur peternakan modern di daerah. Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia mengungkapkan, perlu insentif fiskal dan dukungan logistik agar target bisa tercapai.

Di sisi lain, pakar ekonomi pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Taufik Rahardjo, menilai program ini penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor susu bubuk. “Saat ini lebih dari 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari impor. Jika Program Sapi Perah: Indonesia tekan sektor bisnis untuk cari satu juta sapi berhasil, maka ketahanan pangan dan gizi masyarakat bisa meningkat secara signifikan,” jelasnya.
Namun, tantangan juga datang dari aspek lingkungan. Pengembangan peternakan skala besar berpotensi menimbulkan masalah limbah jika tidak dikelola dengan baik. Pemerintah menekankan bahwa aspek keberlanjutan tetap akan menjadi perhatian utama, sehingga sektor bisnis harus menerapkan teknologi ramah lingkungan dalam budidaya sapi perah.
Selain produksi susu, program ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru di sektor peternakan dan industri olahan. Ribuan peternak lokal diproyeksikan bisa ikut serta dalam rantai pasok susu nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Meski masih menemui hambatan, optimisme tetap tinggi. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, kemitraan dengan sektor bisnis, dan pengawasan ketat, target satu juta sapi perah diyakini bukan hal mustahil. Program ini dipandang sebagai salah satu langkah strategis menuju kemandirian pangan Indonesia di masa depan.
Ke depan, evaluasi berkala akan dilakukan pemerintah untuk memastikan bahwa target tidak hanya sekadar angka, melainkan benar-benar terwujud dan memberi manfaat nyata bagi rakyat.
Untuk informasi ekonomi dan berita terkini lainnya, pembaca dapat mengunjungi www.gelanggangnews.com.

