GELANGGANG NEWS – Cuti bersama yang ditetapkan pemerintah pada 18 Agustus 2025 untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80 membawa dampak yang tak hanya dirasakan oleh sektor perkantoran dan pendidikan, tetapi juga oleh para pengemudi ojek online (ojol). Banyak dari mereka mengeluhkan turunnya jumlah orderan secara drastis selama periode tersebut.
Fenomena ini bukan hal baru, namun tetap menjadi tantangan tahunan. Oleh karena itu, muncul berbagai strategi ojol bertahan saat sepinya orderan di cuti bersama 18 Agustus 2025. Strategi ini dijalankan oleh mitra pengemudi dari berbagai platform seperti Gojek, Grab, dan Maxim untuk tetap bisa memperoleh penghasilan.
Ahmad Rizky (34), seorang pengemudi ojol di Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa orderan pada 18 Agustus turun lebih dari 50% dibanding hari kerja biasa. “Biasanya saya bisa dapat 15 orderan sehari. Tapi pas cuti bersama, paling banyak cuma 6 sampai 8. Itu pun harus muter-muter cari titik keramaian,” ujar Rizky.
Salah satu strategi ojol bertahan saat sepinya orderan di cuti bersama 18 Agustus 2025 adalah dengan berpindah lokasi ke area wisata atau pusat perbelanjaan yang tetap ramai. Beberapa pengemudi memilih mangkal di sekitar taman kota, mal, atau lokasi wisata seperti Ancol dan Monas, yang ramai dikunjungi warga selama libur panjang.
Selain itu, banyak driver yang beralih fokus dari layanan penumpang ke layanan antar makanan dan barang. “Orang mungkin gak pergi ke kantor, tapi mereka tetap pesan makanan. Jadi saya aktifin fitur GoFood terus,” kata Nurhayati (29), driver asal Depok.
Menariknya, sebagian driver juga memanfaatkan momen sepinya orderan untuk melakukan perawatan kendaraan atau beristirahat, sebagai bagian dari strategi ojol bertahan saat sepinya orderan di cuti bersama 18 Agustus 2025 dalam jangka panjang. “Kalau dipaksakan juga gak efektif. Lebih baik motor diservis, badan juga istirahat, jadi siap kerja lagi pas weekdays,” ujar Arif, mitra pengemudi di Tangerang.

Beberapa komunitas ojol turut memberikan pelatihan manajemen waktu dan keuangan kepada anggotanya, agar dapat bertahan saat pendapatan menurun di musim libur. Pendekatan ini terbukti membantu mitra mengelola pemasukan lebih bijak.
Pihak aplikator sendiri belum secara khusus memberikan insentif tambahan pada cuti bersama 18 Agustus ini, namun menyarankan mitra untuk terus memantau permintaan di aplikasi dan memanfaatkan fitur area ramai.
Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menilai bahwa perlu ada komunikasi lebih baik antara perusahaan penyedia layanan transportasi daring dan mitra pengemudi terkait pola permintaan saat hari libur nasional. “Cuti bersama seperti ini seharusnya sudah bisa diprediksi dan dimitigasi,” jelasnya.
Melalui berbagai strategi ojol bertahan saat sepinya orderan di cuti bersama 18 Agustus 2025, para pengemudi berupaya menyesuaikan diri dengan dinamika lapangan. Ketahanan ekonomi sektor informal seperti ojol perlu terus didukung agar tetap berdaya di tengah fluktuasi permintaan.
Untuk berita dan ulasan lebih lanjut seputar sektor transportasi dan ekonomi rakyat, kunjungi www.gelanggangnews.com.








