Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Jaga-jaga Dirudal China, AS Hidupkan Lapangan Terbang Era Perang Dunia II

ByAdmin Gelanggang

Aug 13, 2025

GUAM – Dalam upaya memperkuat kesiapan militernya di kawasan Indo-Pasifik, Amerika Serikat mengambil langkah strategis yang cukup mengejutkan: menghidupkan kembali lapangan terbang era Perang Dunia II. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pertahanan menyeluruh untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan serangan rudal dari China.

Lapangan terbang yang dimaksud adalah Lapangan Terbang North Field di Pulau Tinian, yang dahulu digunakan sebagai pangkalan utama operasi pemboman terhadap Jepang pada akhir Perang Dunia II. Kini, fasilitas tersebut sedang dipulihkan dan dimodernisasi oleh militer AS untuk berfungsi kembali sebagai landasan cadangan apabila pangkalan utama seperti Andersen Air Force Base di Guam lumpuh akibat serangan.

Langkah ini diambil jaga-jaga dirudal China, terutama mengingat meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan dan Laut China Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Para analis menyebut pemulihan lapangan terbang tua ini sebagai simbol bahwa AS serius dalam mempersiapkan skenario konflik skala besar di kawasan Pasifik.

Strategi Dispersi dan Ketahanan Infrastruktur

Pentagon menyebut proyek ini sebagai bagian dari strategi “dispersi pangkalan udara”, yakni menyebarkan aset militer ke berbagai lokasi agar tidak mudah dilumpuhkan oleh satu serangan besar. Dalam konteks ini, AS hidupkan lapangan terbang era Perang Dunia II sebagai langkah mitigasi atas ancaman rudal balistik jarak jauh yang dimiliki oleh militer China.

“Ini bukan soal nostalgia sejarah. Ini soal kesiapsiagaan militer modern dalam menghadapi ancaman nyata dari negara dengan kekuatan misil seperti China,” ujar Letkol Brian Pritchard dari Komando Pasifik AS dalam wawancara dengan media lokal.

Penguatan Aset di Indo-Pasifik

Selain di Tinian, AS juga memperkuat fasilitas militernya di Filipina, Palau, dan Australia. Semua ini dilakukan dengan satu tujuan: menjamin kebebasan navigasi dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik, yang kini dianggap sebagai titik panas dalam geopolitik global.

Langkah jaga-jaga dirudal China, AS hidupkan lapangan terbang era Perang Dunia II juga mendapat dukungan dari sekutu regional seperti Jepang dan Australia, yang sama-sama merasa terancam oleh ekspansi militer Beijing.

Reaksi China dan Dampak Diplomatik

Tanggapan dari pihak China pun tidak lama menyusul. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menuding AS “membangkitkan semangat perang dingin” dan memperkeruh situasi di Asia Timur.

Meskipun demikian, Washington menyatakan bahwa semua langkah ini bersifat defensif. Jaga-jaga dirudal China, AS hidupkan lapangan terbang era Perang Dunia II hanyalah bagian dari langkah antisipatif, bukan provokasi langsung.

Langkah militer AS untuk menghidupkan kembali lapangan terbang era Perang Dunia II sebagai antisipasi rudal China menandai babak baru dalam dinamika keamanan Indo-Pasifik. Ke depan, pembangunan ulang infrastruktur militer bersejarah ini dapat menjadi penentu dalam strategi bertahan dan menyerang di kawasan yang semakin memanas.

Ikuti terus perkembangan isu pertahanan dan geopolitik hanya di www.gelanggangnews.com.