Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Tarif Trump Picu Gelombang Boikot Produk AS di India

ByAdmin Gelanggang

Aug 12, 2025

New Delhi – Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan India kembali memanas setelah pengumuman kebijakan tarif baru oleh mantan Presiden AS, Donald Trump. Kebijakan tersebut, yang dijuluki “America First Trade Act”, dianggap merugikan India dan telah memicu reaksi keras di berbagai kota besar. Tarif Trump picu gelombang boikot produk AS di India, dengan gerakan boikot kini semakin meluas dan mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat.

Pengumuman tarif tinggi terhadap komoditas asal India, termasuk tekstil dan farmasi, mendorong sentimen anti-AS berkembang cepat. Aksi protes bermunculan di kota-kota seperti Mumbai, Delhi, dan Hyderabad, di mana massa menyerukan penghentian pembelian produk Amerika seperti minuman ringan, pakaian bermerek, hingga perangkat teknologi.

Organisasi perdagangan lokal dan kelompok nasionalis India menyatakan bahwa tarif Trump picu gelombang boikot produk AS di India karena dianggap sebagai bentuk tekanan ekonomi yang tidak adil terhadap negara berkembang.

“Kami tidak akan tinggal diam saat kepentingan industri lokal dirugikan. Ini bukan hanya soal perdagangan, tapi soal kedaulatan,” ujar Rajiv Tandon, Ketua Asosiasi Pedagang India, saat memimpin aksi damai di Delhi, Senin (11/8).

Reaksi Pemerintah dan Dampak Ekonomi

Pemerintah India melalui Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan pernyataan yang menyesalkan kebijakan tarif baru tersebut. Mereka menyatakan akan mempertimbangkan langkah balasan di forum perdagangan internasional, termasuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Menteri Perdagangan Piyush Goyal menyebut bahwa tarif Trump merupakan ancaman bagi hubungan dagang bilateral dan bisa memicu ketegangan jangka panjang.

“Jika tidak ada perubahan pendekatan, kami akan mempertimbangkan langkah retaliasi,” katanya dalam konferensi pers.

Sejumlah analis memperkirakan, gelombang boikot produk AS di India bisa memengaruhi penjualan perusahaan multinasional seperti Apple, Coca-Cola, dan Nike yang memiliki pasar besar di India. Beberapa gerai di pusat perbelanjaan melaporkan penurunan jumlah pelanggan sejak awal bulan Agustus.

Dukungan dari Tokoh Politik dan Aktivis

Bukan hanya kalangan pebisnis, sejumlah tokoh politik dari partai oposisi juga turut angkat bicara. Mereka menilai langkah Trump bisa menjadi “bumerang” bagi diplomasi ekonomi AS di Asia Selatan. Aktivis sosial dan influencer media sosial pun ikut menyerukan boikot melalui tagar seperti #BoycottUSProducts dan #StandWithIndia yang kini trending di platform X (Twitter).

Banyak warga menyatakan bahwa aksi ini bukan sekadar protes simbolik, tapi wujud solidaritas terhadap industri dalam negeri. “Kalau bukan kita yang dukung produk lokal, siapa lagi?” ujar Priya, mahasiswa di Mumbai.

Ketika tarif Trump picu gelombang boikot produk AS di India, situasi ini menunjukkan betapa kebijakan dagang internasional bisa berdampak langsung ke akar rumput. Pemerintah India kini tengah menyiapkan langkah diplomatik lanjutan, sembari memantau dampak ekonomi dari gerakan boikot yang terus meluas.

Untuk perkembangan terbaru isu perdagangan global dan ekonomi internasional lainnya, kunjungi GELANGGANG NEWS di www.gelanggangnews.com.