KYIV, 1 Agustus 2025 — Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali diguncang serangan udara dahsyat dari militer Rusia pada Kamis malam hingga Jumat dini hari. Serangan itu menjadi salah satu yang paling mematikan sepanjang tahun ini. Pemerintah Ukraina menyatakan bahwa sedikitnya 16 orang tewas, termasuk dua anak-anak, dan lebih dari 135 orang lainnya luka-luka dalam rentetan serangan menggunakan drone kamikaze dan rudal jelajah.
Menurut laporan dari Komando Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan lebih dari 300 drone Shahed buatan Iran dan beberapa rudal Kalibr dalam gelombang serangan yang berlangsung selama hampir tujuh jam. Serangan ini menghantam berbagai wilayah permukiman padat penduduk, fasilitas pendidikan, dan pusat medis di Kyiv, serta merusak jaringan listrik di beberapa distrik barat ibu kota.
Gambar dari lokasi kejadian menunjukkan kehancuran besar: bangunan apartemen sembilan lantai runtuh sebagian, ambulans lalu-lalang mengangkut korban luka, dan petugas penyelamat bekerja keras menyisir puing-puing mencari korban yang mungkin masih tertimbun. Beberapa korban anak-anak dilaporkan mengalami luka bakar serius akibat ledakan dan kebakaran pasca-serangan.
Zelenskyy Marah: Serangan Brutal dan Pembiaran Internasional
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengeluarkan pernyataan keras tak lama setelah serangan terjadi. Ia mengecam tindakan Rusia sebagai bentuk “pembantaian terbuka terhadap warga sipil” dan menyebut bahwa serangan ini merupakan bukti bahwa Moskow tidak memiliki niat untuk mengakhiri perang secara damai.
Lebih lanjut, Zelenskyy juga menyindir keras Uni Eropa, yang menurutnya gagal memberikan respons tegas terhadap eskalasi kekerasan yang terus dilakukan Kremlin. Dalam pidatonya di hadapan peserta Konferensi Keamanan Helsinki ke-50, Zelenskyy berkata:
“Berapa banyak lagi anak-anak yang harus mati sebelum dunia berhenti bersikap netral? Rusia tidak akan berhenti kecuali kita bersatu dan melawannya bersama. Perubahan hanya akan datang jika rezim kriminal di Moskow dihentikan, bukan dinegosiasikan.”
Zelenskyy mendesak negara-negara Eropa untuk segera mengirimkan lebih banyak sistem pertahanan udara, termasuk Patriot dan IRIS-T, serta mempercepat sanksi ekonomi terhadap perusahaan Rusia yang masih aktif mendukung perang.
Respons Global dan Ultimatum AS
Serangan mematikan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Moskow, terutama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Rusia pada awal pekan ini. Trump memperingatkan bahwa Washington akan menjatuhkan sanksi tambahan yang lebih berat jika Rusia tidak menghentikan semua serangan ke wilayah sipil Ukraina dalam waktu 10 hari.
Namun hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa Kremlin akan menghentikan agresi. Sebaliknya, juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa semua target dalam serangan terbaru adalah “fasilitas militer dan infrastruktur pendukung pertahanan”, meskipun kenyataannya yang hancur adalah rumah sakit anak, sekolah, dan perumahan warga.
Pertahanan Udara Kyiv Kewalahan
Militer Ukraina menyatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah berhasil menjatuhkan lebih dari 85 persen drone dan rudal yang diluncurkan, tetapi skala serangan membuat mereka kewalahan.
Wakil Menteri Pertahanan Ukraina, Hanna Maliar, mengakui bahwa kemampuan pertahanan Kyiv sangat tergantung pada pasokan rudal dari Barat. Ia juga menekankan bahwa jika tidak ada penambahan stok dalam beberapa minggu ke depan, maka kota-kota besar Ukraina bisa menjadi sasaran empuk.
“Kami bertahan sejauh ini karena bantuan dari mitra internasional, tapi cadangan kami tidak tak terbatas. Dunia harus sadar bahwa perang ini bukan hanya tentang Ukraina, tapi tentang masa depan keamanan Eropa secara keseluruhan,” ujar Maliar.
Dampak Kemanusiaan dan Seruan Internasional
Serangan ini juga menimbulkan kepanikan di kalangan penduduk Kyiv. Ribuan orang kembali mengungsi ke wilayah barat Ukraina dan ke perbatasan Polandia. Layanan darurat terus bekerja 24 jam untuk memulihkan listrik, membersihkan puing-puing, dan memberikan layanan medis darurat.
Organisasi Palang Merah Internasional mengeluarkan peringatan akan terjadinya krisis kemanusiaan musim panas, karena ribuan orang kini kehilangan tempat tinggal sementara suhu musim panas mencapai titik ekstrem.
Komunitas internasional, termasuk PBB dan NATO, telah menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya jumlah korban sipil, namun hingga kini belum ada langkah baru yang konkrit selain kecaman.
Pemerintah Ukraina mengingatkan bahwa jika Rusia tidak dihentikan sekarang, maka serangan yang lebih brutal bisa menyusul dalam waktu dekat. Kyiv kembali menyerukan dunia untuk tidak tinggal diam, karena harga dari pembiaran adalah nyawa manusia yang terus menjadi korban setiap hari.
Berita dan update selengkapnya tersedia di www.gelanggangnews.com






