JAKARTA, Gelanggang News Polemik seputar keaslian ijazah Presiden Joko Widodo kembali mencuat ke publik setelah pernyataan dari mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Sofian Effendi, viral di media sosial. Dalam video yang beredar, Sofian mempertanyakan penggunaan font Times New Roman pada dokumen akademik Jokowi yang menurutnya belum umum digunakan di era 1980-an.
Pernyataan tersebut langsung menuai sorotan luas dan menimbulkan perdebatan di ruang publik. Namun, pihak UGM tak tinggal diam dan segera memberikan klarifikasi resmi.
UGM Pastikan Ijazah dan Skripsi Jokowi Asli
Melalui Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, universitas menegaskan bahwa ijazah dan skripsi Presiden Jokowi adalah sah dan asli. Jokowi tercatat sebagai mahasiswa angkatan 1980 dan lulus pada 5 November 1985, dengan nomor induk mahasiswa 80/34416/KT/1681.
Sigit juga menjelaskan bahwa penggunaan font dalam skripsi bukan hal yang baku pada masa itu, karena sebagian besar dokumen diketik secara manual menggunakan mesin ketik, bukan komputer.
UGM Sesalkan Opini Tak Berdasar
UGM menyayangkan munculnya opini pribadi dari mantan pejabat kampus yang justru menyesatkan publik. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Arie Sujito, menyebutkan bahwa kampus terbuka untuk diskusi yang sehat, namun harus berdasarkan data dan nalar akademik, bukan asumsi.
“UGM tidak dalam posisi berspekulasi, melainkan menjelaskan fakta akademik berdasarkan arsip resmi,” tegas Arie.
Prof. Sofian Tarik Ucapan dan Minta Maaf
Menanggapi kontroversi tersebut, Prof. Sofian Effendi telah menarik seluruh pernyataannya dan meminta video viral yang memuat komentarnya untuk dihapus. Ia mengaku tidak memiliki kapasitas untuk menyatakan keaslian atau kepalsuan ijazah Jokowi dan menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang disebut dalam pernyataannya.
Catatan Tambahan dari UGM
Arsip akademik Jokowi tersimpan rapi dan siap diverifikasi oleh pihak berwenang jika diperlukan.
UGM menegaskan hanya akan membuka data pribadi jika ada permintaan hukum resmi.
Klarifikasi ini bertujuan menjaga kredibilitas institusi akademik dari spekulasi liar yang berkembang di media sosial.
🔗 Ikuti kabar akurat dan terpercaya lainnya hanya di gelanggangnews.com

