Setelah ketegangan antara Israel dan Iran mereda melalui kesepakatan gencatan senjata tidak langsung, Israel kini mengalihkan fokus militernya ke wilayah Palestina. Dalam beberapa hari terakhir, serangan udara dan operasi darat dilaporkan meningkat drastis di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Militer Israel (IDF) meluncurkan puluhan serangan udara ke sejumlah lokasi strategis di Gaza, termasuk wilayah padat penduduk seperti Khan Younis dan Rafah. Serangan tersebut diklaim menyasar infrastruktur milik Hamas dan kelompok militan lainnya, namun banyak warga sipil turut menjadi korban. Laporan dari lapangan menyebutkan adanya kehancuran besar pada rumah-rumah warga, masjid, dan fasilitas umum.
Tak hanya di Gaza, agresi militer juga terjadi di Tepi Barat, terutama di kota Jenin dan Nablus. Pasukan Israel melakukan penggerebekan intensif, menahan puluhan warga Palestina, dan menutup akses ke beberapa kamp pengungsi. Warga sipil kembali menjadi korban, termasuk anak-anak yang mengalami trauma akibat serangan mendadak pada malam hari.
Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan peningkatan jumlah korban tewas dan luka-luka, serta krisis kemanusiaan yang semakin parah akibat blokade dan sulitnya distribusi bantuan. Rumah sakit di Gaza dilaporkan kewalahan menangani korban, sementara pasokan medis dan makanan mulai menipis.
Langkah Israel ini menuai kecaman dari berbagai pihak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara sahabat menyerukan deeskalasi dan penghentian kekerasan terhadap warga sipil. Namun, pemerintah Israel menegaskan bahwa operasi militer akan terus dilakukan selama dianggap perlu untuk menjaga keamanan nasional.
Analis menyebut serangan masif ini sebagai bentuk demonstrasi kekuatan, sekaligus strategi untuk mengalihkan perhatian dunia usai tekanan internasional terkait konflik dengan Iran. Gencatan senjata dengan Iran dinilai menjadi celah bagi Israel untuk kembali menekan Palestina tanpa gangguan dari front regional lainnya.
Sementara itu, masyarakat internasional menyoroti penderitaan warga sipil yang terus meningkat. Seruan untuk menghidupkan kembali proses perdamaian dan perlindungan terhadap warga sipil kembali menggema, meskipun harapan akan penyelesaian damai masih tampak jauh dari kenyataan.
Baca berita lengkap dan terkini lainnya hanya di:Â https://gelanggangnews.com

