JAKARTA – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan yang mengejutkan publik internasional. Dalam sebuah pidato kampanye, Trump mengklaim bahwa dirinya pernah menyelamatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dari kematian memalukan akibat rencana pembunuhan oleh Israel. Ia menyebut bahwa selama masa kepemimpinannya, terdapat tekanan dari pihak Israel untuk melakukan operasi militer yang menargetkan Khamenei, namun ia memilih menahan serangan itu demi mencegah konflik besar di Timur Tengah. Trump menambahkan bahwa jika serangan itu terjadi, Timur Tengah bisa terbakar dan Amerika akan terseret dalam perang yang luas dan mahal. Klaim Trump ini sontak memicu polemik. Di satu sisi, para pendukungnya menyebutnya sebagai bukti bahwa Trump adalah pemimpin yang mampu mengendalikan eskalasi global. Namun di sisi lain, sejumlah analis dan mantan pejabat intelijen mempertanyakan kebenaran pernyataan tersebut, menyebutnya tidak didukung bukti jelas dan bisa jadi hanya manuver politik menjelang pemilu 2024. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari otoritas Iran maupun Israel, namun media Timur Tengah mulai ramai menyoroti pernyataan ini sebagai potensi pengganggu stabilitas kawasan. Jika klaim tersebut benar, maka Trump secara tidak langsung mengakui adanya tekanan nyata dari sekutu AS sendiri untuk menggulingkan rezim Iran, sesuatu yang selama ini hanya dibicarakan dalam bayangan teori geopolitik. Di tengah tensi antara Washington, Teheran, dan Tel Aviv yang terus meningkat, pernyataan ini bisa menjadi bahan bakar baru dalam percaturan diplomatik global.
Pantau terus perkembangan dan analisis lengkapnya, hanya di gelanggangnews.com.

