Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Setelah Perancis, Inggris Dilanda Demo 100.000 Warga Turun ke Jalan

ByAdmin Gelanggang

Sep 15, 2025

LONDON — Setelah gelombang protes besar melanda Perancis, kini giliran Inggris menghadapi demonstrasi dengan skala serupa. Lebih dari 100.000 warga turun ke jalan di berbagai kota, termasuk London, Manchester, dan Birmingham, untuk menyuarakan tuntutan terkait kenaikan biaya hidup, reformasi ketenagakerjaan, serta kebijakan imigrasi pemerintah.

Aksi yang berlangsung pada Sabtu (13/9) ini menjadi yang terbesar dalam satu dekade terakhir di Inggris. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Enough is Enough” dan “Fair Wages Now,” menyoroti krisis ekonomi yang membebani masyarakat kelas pekerja. Banyak di antara peserta aksi juga terinspirasi oleh gelombang protes di Perancis yang menolak kebijakan pensiun Presiden Emmanuel Macron.

Latar Belakang Protes

Kenaikan harga energi, inflasi yang masih tinggi, dan kebijakan pemotongan subsidi menjadi pemicu utama demonstrasi. Serikat buruh di Inggris menyebut pemerintah gagal memberikan solusi yang adil, sementara perusahaan-perusahaan besar justru mencatatkan keuntungan tinggi.

“Kami tidak bisa hanya diam melihat ketidakadilan ini. Rakyat kecil yang menanggung beban, sementara elit ekonomi terus diuntungkan,” ujar Sharon Graham, pemimpin serikat pekerja Unite.

Respons Pemerintah

Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan pemerintah mendengar aspirasi rakyat, tetapi menegaskan bahwa stabilitas fiskal harus tetap dijaga. Ia juga mengingatkan agar aksi dilakukan secara damai dan tidak mengganggu ketertiban umum.

Kepolisian Metropolitan London mengerahkan lebih dari 10.000 personel untuk mengawal jalannya demonstrasi. Meski sebagian besar berjalan damai, bentrokan kecil sempat terjadi di Westminster, menyebabkan 27 orang ditangkap.

Dampak Politik dan Sosial

Demo besar di Inggris ini memperlihatkan pola yang mirip dengan Perancis, di mana tekanan publik mampu mengguncang stabilitas politik. Pengamat menilai, jika tuntutan masyarakat diabaikan, pemerintahan Starmer berpotensi kehilangan legitimasi lebih cepat dari yang diperkirakan.

“Setelah Perancis, Inggris dilanda demo 100.000 warga turun ke jalan. Ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, tetapi alarm bagi pemerintah bahwa kebijakan ekonomi harus lebih berpihak kepada rakyat,” kata analis politik Universitas Cambridge, Prof. Richard Evans.

Selain isu ekonomi, kebijakan imigrasi juga menjadi sorotan. Sebagian massa menuntut pemerintah memperketat arus masuk tenaga kerja asing, sementara kelompok lain justru menyerukan sikap lebih inklusif.

Tuntutan Serikat Buruh

Serikat buruh menuntut tiga hal utama:

  1. Kenaikan upah minimum sesuai inflasi.

  2. Perlindungan pekerja dari pemutusan hubungan kerja sepihak.

  3. Kebijakan energi yang lebih terjangkau untuk rumah tangga menengah ke bawah.

Mereka juga mengancam akan melakukan aksi mogok nasional jika pemerintah tidak segera merespons dalam waktu satu bulan ke depan.

Gelombang protes di Inggris menunjukkan bagaimana keresahan sosial di Eropa terus merembet dari satu negara ke negara lain. Setelah Perancis, Inggris dilanda demo 100.000 warga turun ke jalan, mempertegas bahwa krisis ekonomi global telah menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Untuk informasi selengkapnya, kunjungi www.gelanggangnews.com.