Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Sering Dilakukan, Kebiasaan Ini Bisa Picu Saraf Kejepit pada Remaja

ByAdmin Gelanggang

Jul 30, 2025

GELANGGANG NEWS – Era digital memang menawarkan kemudahan dalam belajar, bermain, hingga bersosialisasi. Namun di balik layar smartphone dan laptop yang akrab dalam kehidupan sehari-hari remaja, terdapat ancaman kesehatan yang diam-diam mengintai: saraf kejepit.

Selama ini, saraf kejepit atau hernia nukleus pulposus (HNP) lebih identik dengan orang tua atau pekerja kantoran. Namun tren terbaru menunjukkan bahwa semakin banyak remaja mengeluhkan gejala saraf kejepit, seperti nyeri menjalar ke kaki, kesemutan, atau rasa berat di punggung bagian bawah.

Remaja Kurang Gerak, Saraf Terjepit

Menurut dr. Asrafi Rizki Gatam, dokter spesialis ortopedi tulang belakang dari Eka Hospital BSD, kecanduan gawai dan gaya hidup pasif menjadi penyebab utama.

“Remaja sekarang makin sulit diajak aktif. Teknologi membuat mereka malas bergerak. Tanpa sadar, otot di sekitar tulang belakang jadi lemah karena jarang dipakai,” ungkap dr. Asrafi dalam konferensi pers di Bintaro, Jumat (25/7).

Kondisi ini diperparah dengan postur duduk yang buruk, seperti membungkuk saat main ponsel, atau duduk bersila berjam-jam sambil menatap layar. Saat kebiasaan ini dilakukan terus-menerus tanpa peregangan atau aktivitas fisik penyeimbang, maka tekanan pada bantalan antar tulang belakang meningkat, yang akhirnya bisa menjepit saraf.

Apa Itu Saraf Kejepit?

Secara medis, saraf kejepit terjadi ketika saraf mengalami tekanan dari jaringan sekitarnya, bisa berupa tulang, otot, ligamen, bahkan bantalan cakram tulang belakang itu sendiri. Gejalanya bisa ringan hingga parah, mulai dari nyeri lokal, kesemutan, hingga mati rasa yang menjalar.

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu aktivitas harian dan menurunkan kualitas hidup remaja di usia produktifnya.

Kebiasaan Sepele yang Harus Diwaspadai

Berikut beberapa kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele, tapi bisa berkontribusi besar terhadap risiko saraf kejepit di usia muda:

1. Duduk Terlalu Lama

Belajar daring, scrolling media sosial, atau main game bisa membuat remaja duduk dalam posisi yang sama selama 3–6 jam sehari. Jika tanpa jeda untuk berdiri, berjalan, atau stretching, tekanan pada tulang belakang akan meningkat drastis.

2. Postur Duduk yang Buruk

Membungkuk, menyilangkan kaki, atau menunduk tajam saat bermain gadget bisa menyebabkan ketidakseimbangan distribusi beban tubuh. Ini mengganggu struktur tulang belakang dan meningkatkan risiko penjepitan saraf.

3. Kurang Aktivitas Fisik

Remaja yang tidak terbiasa berolahraga memiliki otot penyangga tulang belakang yang lemah. Akibatnya, beban tubuh tidak tersangga optimal, dan bantalan tulang belakang lebih mudah tertekan.

4. Olahraga Berlebihan Tanpa Teknik

Ironisnya, olahraga yang berlebihan tanpa pemanasan atau teknik yang salah—seperti angkat beban berlebihan atau lari dengan posisi salah—justru dapat menimbulkan cedera tulang belakang. Cedera ini sering menjadi pemicu awal saraf kejepit pada remaja yang aktif secara fisik.

Pencegahan: Seimbangkan Teknologi dan Gerak

Saraf kejepit di usia muda bukan tak bisa dicegah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Membatasi durasi penggunaan gadget secara terus-menerus.

  • Melakukan peregangan ringan setiap 30–45 menit sekali saat duduk.

  • Membiasakan postur duduk yang benar, dengan punggung tegak dan bahu rileks.

  • Berolahraga rutin minimal 3 kali seminggu untuk memperkuat otot-otot penyangga tulang belakang.

  • Menghindari olahraga ekstrem tanpa bimbingan instruktur yang paham teknik dasar.

Teknologi Boleh, Tapi Jangan Lupa Bergerak

Keseimbangan antara gaya hidup digital dan aktivitas fisik sangat penting. Di usia remaja, tulang dan saraf masih dalam masa pertumbuhan. Apabila tidak dijaga dengan baik, bukan tidak mungkin gangguan tulang belakang yang biasanya muncul di usia 40-an akan lebih dulu menghantui generasi muda.


Baca informasi kesehatan anak muda lainnya hanya di:
🔗 www.gelanggangnews.com