GELANGGANG NEWS — Wabah influenza menyerang ribuan pelajar di salah satu negara tetangga Indonesia, membuat pemerintah setempat mengambil langkah drastis dengan menutup sejumlah sekolah selama beberapa hari. Keputusan ini diambil untuk menekan penyebaran penyakit yang meningkat tajam sejak akhir September lalu dan telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua serta tenaga pendidik.
Pemerintah Malaysia menjadi sorotan setelah Kementerian Kesehatan Negeri Selangor melaporkan bahwa lebih dari 8.000 siswa dari tingkat sekolah dasar hingga menengah mengalami gejala influenza dalam dua pekan terakhir. Gejala yang dilaporkan meliputi demam tinggi, batuk, pilek, hingga kelelahan berat.
Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Tan Sri Dr. Noor Hisham Abdullah, menyampaikan bahwa lonjakan kasus influenza tahun ini tergolong tidak biasa karena terjadi bersamaan dengan cuaca lembap dan perubahan musim yang ekstrem. Ia juga menegaskan bahwa pihak berwenang telah menerapkan langkah cepat berupa penutupan sementara sekolah di beberapa wilayah terdampak berat, seperti Selangor, Johor, dan Penang.
“Kami mengambil langkah ini demi keselamatan siswa dan guru. Sekolah-sekolah akan ditutup selama 5 hari untuk proses disinfeksi total dan pemantauan kesehatan,” ujar Noor Hisham dalam konferensi pers, Selasa (15/10/2025).
Kementerian Pendidikan Malaysia turut mengeluarkan surat edaran resmi kepada seluruh sekolah untuk memperketat protokol kesehatan, termasuk kewajiban memakai masker di ruang tertutup, pemeriksaan suhu tubuh sebelum masuk kelas, dan penyediaan fasilitas cuci tangan di setiap area sekolah.
Sementara itu, sejumlah rumah sakit di Kuala Lumpur dan Johor Bahru melaporkan peningkatan signifikan pasien anak-anak dengan gejala serupa influenza. Beberapa ruang perawatan anak bahkan dilaporkan penuh hingga harus membuka ruang isolasi tambahan.
Salah satu orang tua murid di Kuala Lumpur, Nur Aina Rahman, mengaku khawatir dengan cepatnya penyebaran penyakit ini.
“Anak saya baru seminggu sembuh dari flu berat, lalu teman-temannya di sekolah juga banyak yang sakit. Saya mendukung keputusan pemerintah untuk menutup sementara sekolah,” ujarnya.
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa virus influenza yang menyebar kali ini merupakan varian Influenza A (H3N2), yang dikenal lebih cepat menular di lingkungan padat seperti sekolah. Meski bukan jenis baru, mutasi ringan pada virus ini membuat daya tularnya meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Epidemiolog dari Universiti Malaya, Prof. Dr. Ahmad Fadzli, menjelaskan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan tanpa panik berlebihan.
“Influenza ini berbeda dengan COVID-19, tetapi tetap berbahaya bagi anak-anak, lansia, dan mereka dengan daya tahan tubuh lemah. Vaksinasi influenza tahunan sebaiknya diprioritaskan,” jelasnya.
Pemerintah Malaysia juga meminta masyarakat tidak membawa anak yang sakit ke tempat umum dan segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat. Jika situasi tidak membaik dalam waktu dua minggu, Kementerian Pendidikan berencana memperpanjang masa belajar daring hingga kondisi dianggap aman.
Situasi ini turut menarik perhatian Indonesia, terutama di wilayah perbatasan seperti Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau, yang memiliki mobilitas tinggi dengan Malaysia. Kementerian Kesehatan RI menyatakan akan memperketat pengawasan kesehatan di pintu-pintu perlintasan internasional dan memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap gejala influenza berat.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular musiman masih harus diwaspadai di tengah pemulihan pascapandemi. Kolaborasi lintas negara sangat penting agar penyebaran penyakit serupa dapat dikendalikan lebih cepat dan efektif.
Info berita terkini lainnya hanya di www.gelanggangnews.com

