Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Menguji Komitmen Prabowo pada Reformasi Pasca-Abolisi dan Amnesti

ByAdmin Gelanggang

Aug 4, 2025

Jakarta, GELANGGANG NEWS – Pascadiberikannya amnesti kepada sejumlah tokoh dan pembubaran beberapa lembaga yang dianggap bermasalah, publik kini mengarahkan perhatian pada langkah-langkah lanjutan dari Menteri Pertahanan sekaligus presiden terpilih, Prabowo Subianto. Momen ini dinilai menjadi titik krusial untuk menguji komitmen Prabowo pada reformasi pasca-abolisi dan amnesti.

Abolisi terhadap lembaga seperti Komando Operasi Khusus (Koopsus) TNI serta pemberian amnesti kepada aktivis yang sempat ditahan di era sebelumnya dipandang sebagai sinyal awal terbukanya ruang rekonsiliasi nasional. Namun, publik masih menanti apakah langkah simbolik ini akan diikuti oleh reformasi yang lebih substantif dalam sektor pertahanan, hukum, dan hak asasi manusia.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Dr. Retno Maulani, menyebut bahwa komitmen Prabowo pada reformasi pasca-abolisi dan amnesti akan diuji melalui kebijakan struktural yang akan diambil setelah pelantikannya Oktober mendatang. “Kita ingin melihat apakah ini sekadar pencitraan atau benar-benar ada kemauan politik untuk mengubah pola lama,” ujarnya.

Salah satu indikator utama yang dinilai penting adalah transparansi dalam proses hukum dan pembentukan tim independen untuk meninjau ulang kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. Dalam hal ini, publik menaruh harapan agar komitmen Prabowo pada reformasi pasca-abolisi dan amnesti tidak berhenti pada retorika, melainkan diwujudkan dalam kebijakan konkret.

Selain itu, tata kelola militer juga menjadi sorotan. Banyak pihak menyoroti pentingnya membatasi peran TNI di luar fungsi pertahanan, termasuk keterlibatan dalam sektor sipil. Beberapa kebijakan di masa lalu yang melibatkan militer dalam urusan sipil menuai kritik keras, dan ini menjadi ujian lain bagi komitmen Prabowo terhadap reformasi pasca-abolisi dan amnesti

 

Sementara itu, dari sisi komunikasi publik, tim Prabowo belum memberikan rincian konkret mengenai roadmap reformasi yang akan ditempuh. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat sipil bahwa reformasi hanya akan menjadi jargon politik tanpa implementasi nyata.

Aktivis HAM, Maria Tri Utami, menyatakan bahwa pemberian amnesti belum cukup tanpa pemulihan menyeluruh bagi para korban pelanggaran HAM. “Kita perlu memastikan bahwa negara tidak hanya memaafkan, tetapi juga bertanggung jawab,” katanya.

Untuk itu, masa transisi ini menjadi momentum emas bagi Prabowo untuk membuktikan bahwa dia tidak hanya mewarisi kekuasaan, tapi juga tanggung jawab untuk menyempurnakan demokrasi. Seluruh mata kini tertuju pada langkah selanjutnya—apakah komitmen Prabowo pada reformasi pasca-abolisi dan amnesti akan menjawab harapan rakyat atau sekadar janji kosong.

Untuk informasi selengkapnya, kunjungi www.gelanggangnews.com.