Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Gaya Hidup Modern yang Meningkatkan Risiko Diabetes

ByAdmin Gelanggang

Oct 23, 2025

Jakarta — Di tengah kemajuan teknologi dan pola hidup serba cepat, gaya hidup modern ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu dampak paling nyata adalah meningkatnya risiko diabetes melitus, penyakit kronis yang kini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan lanjut usia, melainkan juga mulai menyerang generasi muda usia produktif. Gaya hidup tidak aktif, konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, serta stres kronis menjadi kombinasi berbahaya yang mempercepat munculnya gejala diabetes tipe 2.

Data dari International Diabetes Federation (IDF) menunjukkan bahwa pada tahun 2025, jumlah penderita diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 23 juta orang, meningkat tajam dibanding satu dekade lalu. Lonjakan ini dikaitkan langsung dengan perubahan pola hidup masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi digital dan minim aktivitas fisik.

Menurut dr. Rian Adityo, Sp.PD, spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), penyebab utama meningkatnya kasus diabetes adalah lifestyle syndrome — kombinasi antara pola makan tidak sehat dan gaya hidup sedentari. “Orang zaman sekarang banyak duduk, jarang bergerak, dan sering mengonsumsi makanan cepat saji tinggi kalori. Ini mempercepat resistensi insulin dalam tubuh,” ujarnya.

Makanan cepat saji, minuman manis berkarbonasi, serta camilan tinggi karbohidrat sederhana menjadi faktor dominan. Banyak orang tidak menyadari bahwa segelas minuman kekinian bisa mengandung hingga 20 sendok teh gula — jauh melebihi batas asupan gula harian yang direkomendasikan WHO, yaitu 50 gram per hari.

Selain pola makan, kebiasaan begadang dan stres akibat tekanan pekerjaan juga berperan besar. Gaya hidup urban yang menuntut produktivitas tinggi membuat banyak orang mengabaikan waktu tidur dan pola makan seimbang. “Kurang tidur mengganggu metabolisme glukosa dan meningkatkan kadar hormon kortisol, yang berkontribusi langsung terhadap peningkatan gula darah,” tambah dr. Rian.

Yang lebih memprihatinkan, pandemi digital dan budaya work from home yang masih bertahan di beberapa sektor memperparah gaya hidup tidak aktif. Banyak orang bekerja di depan layar selama berjam-jam tanpa aktivitas fisik yang cukup. Hasilnya, kadar gula darah mudah naik, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan diabetes.

Untuk mencegahnya, para ahli menyarankan perubahan gaya hidup sederhana yang bisa dilakukan siapa saja. Beberapa langkah penting antara lain menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga minimal 30 menit per hari, mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat olahan, serta memperbanyak sayuran dan buah-buahan segar.

Selain itu, penting juga melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara berkala, terutama bagi individu berisiko tinggi. “Deteksi dini sangat penting. Banyak orang baru tahu dirinya menderita diabetes ketika sudah muncul komplikasi seperti gangguan penglihatan, ginjal, atau jantung,” kata dr. Rian menegaskan.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan kini tengah menggencarkan kampanye nasional bertajuk CERDIK — singkatan dari Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Kampanye ini diharapkan mampu mengubah perilaku masyarakat agar lebih sadar pentingnya pencegahan dini terhadap penyakit tidak menular seperti diabetes.

Namun pada akhirnya, pencegahan diabetes tetap kembali pada kesadaran individu. Gaya hidup modern memang memberikan kemudahan, tetapi tanpa keseimbangan antara aktivitas fisik, pola makan, dan manajemen stres, kemajuan itu bisa berubah menjadi bumerang bagi kesehatan.


Selengkapnya kunjungi: www.gelanggangnews.com