Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

China Tuding Kapal Filipina Tabrak Kapalnya, Dibalas dengan Meriam Air

ByAdmin Gelanggang

Sep 17, 2025

Laut China Selatan – Ketegangan antara China dan Filipina kembali memanas di perairan Laut China Selatan, setelah insiden terbaru yang melibatkan kapal penjaga pantai dari kedua negara. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa (17/9/2025), pihak China menuding bahwa sebuah kapal milik Filipina dengan sengaja menabrak kapal penjaga pantai China di wilayah yang diklaim oleh Beijing sebagai bagian dari yurisdiksinya.

Insiden tersebut terjadi di sekitar perairan dekat Second Thomas Shoal—lokasi strategis yang selama ini menjadi titik konflik antara kedua negara. Menurut otoritas China, kapal Filipina “secara ilegal” memasuki wilayah mereka, lalu melakukan manuver agresif yang berujung pada tabrakan ringan.

“Kapal Filipina bertindak provokatif dan membahayakan keselamatan awak kapal kami. Sebagai respons terukur, kami menggunakan water cannon (meriam air) untuk menghalau kapal tersebut,” tulis pernyataan resmi dari China Coast Guard (CCG).


Versi Filipina: Upaya Penghalangan Bantuan Logistik

Sementara itu, pihak Filipina membantah keras tudingan bahwa mereka melakukan tabrakan sengaja. Pemerintah Filipina menyatakan kapal mereka sedang dalam misi rutin untuk mengirim logistik ke kapal BRP Sierra Madre, kapal angkatan laut tua yang sengaja ditempatkan di Second Thomas Shoal sebagai simbol klaim Filipina atas wilayah tersebut.

Menurut Filipina, penggunaan meriam air oleh kapal China merupakan bentuk agresi berlebihan yang membahayakan keselamatan pelaut dan merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

“Kapal kami tidak melakukan tindakan provokatif. Kami hanya melaksanakan misi kemanusiaan dan mempertahankan hak kedaulatan kami,” ujar Juru Bicara Angkatan Laut Filipina.


Second Thomas Shoal: Titik Panas di Laut China Selatan

Second Thomas Shoal adalah bagian dari Kepulauan Spratly, wilayah yang diperebutkan oleh sejumlah negara Asia Tenggara, namun diklaim hampir seluruhnya oleh China melalui “sembilan garis putus” (nine-dash line) yang kontroversial. Filipina, yang memenangkan gugatan arbitrase internasional tahun 2016, tetap berpegang pada klaim bahwa wilayah itu berada dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil laut mereka.

Meski begitu, China terus membangun kehadiran militernya di wilayah tersebut, termasuk melalui patroli intensif dan pembangunan fasilitas di pulau buatan.


Reaksi Internasional

Insiden terbaru ini menarik perhatian Amerika Serikat dan sekutunya. Washington menyatakan dukungan penuh terhadap Filipina dan menyerukan kepada China untuk menghentikan tindakan intimidasi di Laut China Selatan.

“Setiap serangan terhadap kapal Filipina dapat memicu tanggapan berdasarkan perjanjian pertahanan bersama,” kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS.


Ketegangan Bisa Berujung Konflik Lebih Besar?

Pengamat militer menyatakan bahwa insiden tabrakan dan penggunaan meriam air bisa menjadi awal dari eskalasi konflik bersenjata skala kecil, terutama jika tidak ada mekanisme deeskalasi yang efektif antara kedua negara.

“Ini bukan hanya konflik dua negara, tapi menyangkut kepentingan geopolitik besar yang melibatkan kekuatan global,” ujar pengamat hubungan internasional dari Jakarta.


Untuk laporan eksklusif seputar geopolitik Asia Tenggara, militer maritim, dan konflik perbatasan laut, pantau terus di:
👉 www.gelanggangnews.com