GELANGGANG NEWS — Provinsi Aceh kembali diterpa tragedi besar setelah banjir bandang dan longsor menghantam sejumlah wilayah pegunungan serta permukiman padat penduduk. Hingga laporan terakhir, 84 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya masih dilaporkan hilang. Tim SAR dan relawan terus bekerja sepanjang hari, menyisir daerah yang sulit dijangkau untuk menemukan para korban yang kemungkinan masih tertimbun material longsor.
Bencana terjadi setelah hujan lebat dengan intensitas ekstrem mengguyur kawasan tersebut selama lebih dari delapan jam tanpa henti. Debit air yang deras membuat sungai meluap dan menghantam desa-desa di sepanjang bantaran. Dalam waktu singkat, arus kuat menyeret rumah, kendaraan, dan peralatan warga. Tidak lama setelahnya, tebing yang telah jenuh air mulai ambruk, memicu rangkaian longsor yang menyapu permukiman di bawahnya.
Kondisi di lapangan menunjukkan kerusakan parah. Rumah-rumah warga tampak hanya menyisakan pondasi, pohon tumbang berserakan, dan jalan desa tertutup lumpur setebal satu meter. Jembatan penghubung terpental jauh atau hanyut bersama arus. Banyak warga yang selamat menceritakan bagaimana air tiba dalam hitungan detik, membuat mereka tidak sempat menyelamatkan apa pun kecuali pakaian yang melekat di tubuh.
Di sejumlah titik pengungsian, ratusan warga masih bertahan dengan fasilitas terbatas. Mereka membutuhkan obat-obatan, makanan cepat saji, selimut, dan bantuan trauma healing untuk anak-anak yang mengalami guncangan psikologis. Listrik padam di sebagian besar wilayah terdampak, dan akses komunikasi sering terputus. Tim medis lapangan telah mengantisipasi kemungkinan munculnya penyakit akibat air tercemar dan lingkungan yang rusak.
Operasi pencarian hingga saat ini menghadapi hambatan besar. Cuaca yang tidak menentu, longsoran susulan, dan medan yang licin membuat tim penyelamat harus berhati-hati. Sejumlah desa bahkan hanya bisa diakses dengan berjalan kaki selama lebih dari dua jam karena jalan utama tertutup material tebal. Meski begitu, tim gabungan dari BPBD, TNI–Polri, relawan lokal, dan organisasi kemanusiaan tetap melakukan pencarian kupas demi kupas menggunakan alat berat, drone, dan anjing pelacak.
Gelanggang News mencatat bahwa sejumlah ahli lingkungan menilai bencana ini diperparah oleh kerusakan hutan di wilayah hulu. Berkurangnya tutupan vegetasi membuat tanah tidak mampu menahan air, menyebabkan aliran permukaan meningkat tajam dan memicu longsoran besar. Masyarakat pun mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap izin pembukaan lahan serta perlindungan kawasan konservasi.
Pemerintah daerah telah menyatakan status tanggap darurat dan meminta bantuan dari pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan. Fokus utama saat ini adalah penyelamatan korban, distribusi logistik, serta pemulihan akses infrastruktur agar bantuan dapat menjangkau lebih banyak titik terdampak.
Gelanggang News menegaskan bahwa bencana Aceh kali ini bukan hanya tragedi alam, tetapi juga panggilan agar pengelolaan lingkungan dilakukan lebih serius. Keselamatan warga bergantung pada bagaimana negara melindungi kawasan rawan bencana dan memastikan pembangunan tidak merusak keseimbangan alam.
Informasi lengkap dan perkembangan terbaru dapat dibaca di Gelanggang News: www.gelanggangnews.com

