GELANGGANG NEWS – Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tengah mengguncang lanskap dunia kerja global. Para ahli memperingatkan bahwa generasi Z — kelompok usia muda yang lahir antara 1997 hingga 2012 — kini berada di ambang krisis besar yang disebut sebagai “kiamat kerja”. Fenomena ini muncul akibat otomatisasi yang kian masif di berbagai sektor industri, menggantikan peran manusia dengan sistem cerdas berbasis algoritma.
Menurut laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF) dan International Labour Organization (ILO), lebih dari 300 juta pekerjaan di seluruh dunia berpotensi tergantikan oleh AI dalam dua dekade mendatang. Ironisnya, posisi yang paling rentan justru berada di tangan generasi muda yang baru memasuki dunia kerja.
Ancaman Otomatisasi di Era AI
Teknologi AI kini tak hanya sekadar alat bantu, tetapi telah berevolusi menjadi sistem mandiri yang mampu membuat keputusan, menganalisis data, bahkan menghasilkan konten setara manusia. Dalam dunia perkantoran, perangkat seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot telah mengambil alih sebagian besar pekerjaan administratif, riset, hingga pembuatan laporan.
Sektor kreatif pun tidak luput dari dampak besar. Banyak pekerja desain, jurnalis, hingga pembuat konten mengaku pendapatannya menurun karena klien mulai beralih ke layanan otomatis berbasis AI. Dalam industri perbankan, manufaktur, dan ritel, robotisasi dan machine learning juga mengancam keberadaan jutaan karyawan muda.
“Generasi Z menghadapi tantangan yang berbeda. Mereka tumbuh bersama teknologi digital, tapi justru kini teknologi itu berpotensi merebut mata pencaharian mereka,” ujar Dr. Amelia Tan, pakar ekonomi digital dari University of Singapore.
Pergeseran Kompetensi dan Kesenjangan Digital
Salah satu penyebab utama ancaman ini adalah kesenjangan keterampilan digital. Meski Gen Z dikenal melek teknologi, sebagian besar dari mereka masih menggunakan teknologi sebatas untuk hiburan dan komunikasi, bukan untuk produktivitas atau pengembangan karier.
Perusahaan modern kini lebih membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam analisis data, pemrograman, keamanan siber, hingga pengelolaan AI itu sendiri. Sayangnya, kemampuan tersebut belum banyak dimiliki oleh lulusan baru di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Riset LinkedIn Workforce Report 2025 menunjukkan bahwa 60% perusahaan di Asia Tenggara kesulitan mencari tenaga muda yang siap kerja di bidang teknologi tinggi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ledakan AI justru memperlebar jurang pengangguran di kalangan generasi muda.
AI Bukan Musuh, Tapi Tantangan
Meski terkesan mengancam, sejumlah pakar menilai bahwa AI seharusnya tidak dianggap sebagai musuh manusia. Sebaliknya, teknologi ini dapat menjadi alat pemberdayaan baru jika dikelola dengan bijak.
Pemerintah di berbagai negara kini mulai mendorong program reskilling dan upskilling bagi tenaga muda agar mampu beradaptasi dengan era kerja berbasis AI. Di Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan telah menggagas program pelatihan digital nasional yang fokus pada pengembangan keterampilan analitik dan kreativitas.
“Generasi Z harus segera bertransformasi. Yang tidak bisa beradaptasi dengan AI akan tertinggal, tapi yang bisa menguasainya justru akan menjadi pemimpin masa depan,” kata Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam salah satu forum teknologi di Jakarta.
Pekerjaan Baru di Era AI
Meski banyak pekerjaan lama akan hilang, ledakan teknologi AI juga menciptakan lapangan kerja baru di bidang data science, prompt engineering, AI ethics, serta pengelolaan sistem otomatis. Profesi seperti pengembang model AI, analis prediktif, dan kreator digital berbasis AI kini mulai diminati pasar global.
Generasi muda diimbau untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta teknologi. Dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemahaman etika digital, Gen Z berpeluang menjadi bagian penting dari revolusi industri berikutnya.
Simak berita dan opini terbaru lainnya hanya di www.gelanggangnews.com













