Jakarta – Banyak orang tidak menyadari bahwa peralatan dapur sehari-hari bisa menjadi sumber penyakit jika tidak dirawat dengan benar. Salah satunya adalah talenan kayu. Belakangan, para ahli kesehatan memperingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap talenan kayu yang sudah menghitam, karena kondisi itu bisa menjadi sarang mikroba berbahaya.
Talenan kayu memang populer digunakan di rumah tangga maupun restoran karena dinilai kuat, tahan lama, dan memberikan kesan alami. Namun, sifat kayu yang berpori membuatnya rentan menyerap cairan, sisa makanan, hingga darah dari daging mentah. Jika tidak dibersihkan dengan benar, sisa-sisa tersebut dapat menumpuk dan menjadi tempat berkembang biak bakteri maupun jamur.
Risiko Kesehatan
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Ratna Wulandari, menjelaskan bahwa talenan kayu yang sudah berubah warna menjadi gelap atau menghitam berpotensi mengandung berbagai mikroorganisme.
“Bakteri seperti E. coli, Salmonella, hingga Listeria bisa hidup di celah-celah kayu. Jika digunakan terus-menerus, talenan ini dapat mencemari bahan makanan lain, dan akhirnya menyebabkan keracunan makanan,” jelas Ratna.
Gejala keracunan makanan akibat bakteri tersebut bisa bervariasi, mulai dari diare, sakit perut, mual, hingga demam. Dalam kasus yang parah, infeksi dapat membahayakan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, atau orang dengan sistem imun lemah.
Pentingnya Perawatan Talenan
Ahli keamanan pangan juga menekankan pentingnya perawatan peralatan dapur. Talenan kayu sebaiknya dicuci dengan air mengalir dan sabun segera setelah digunakan. Selain itu, penggunaan air panas atau larutan desinfektan ringan dapat membantu membunuh bakteri yang menempel.
“Jika talenan sudah berbau, retak, atau warnanya menghitam, sebaiknya segera diganti. Jangan menunggu sampai benar-benar rusak karena risikonya sangat tinggi,” kata Ratna.
Selain itu, ada anjuran untuk memisahkan talenan berdasarkan jenis makanan. Misalnya, satu talenan khusus untuk daging mentah, dan satu lagi untuk sayuran atau roti. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko kontaminasi silang antar bahan makanan.
Alternatif Talenan
Seiring meningkatnya kesadaran terhadap higienitas, banyak konsumen beralih ke talenan berbahan plastik atau bambu. Talenan plastik cenderung lebih mudah dibersihkan dan tidak menyerap cairan. Sementara talenan bambu dianggap lebih ramah lingkungan dan memiliki pori-pori lebih rapat dibandingkan kayu biasa.
Namun, semua jenis talenan tetap memiliki umur pakai. Jika permukaan sudah penuh goresan atau sulit dibersihkan, maka harus segera diganti demi menjaga kesehatan keluarga.
Edukasi dan Kesadaran Masyarakat
Kementerian Kesehatan RI juga mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan sanitasi peralatan dapur. Dalam imbauannya, Kemenkes menekankan bahwa kebersihan dapur adalah salah satu faktor penting untuk mencegah penyakit bawaan makanan (foodborne disease).
“Kesadaran kecil seperti mengganti talenan yang sudah tidak layak pakai dapat mencegah masalah kesehatan yang jauh lebih besar. Ingat, dapur sehat adalah kunci keluarga sehat,” tulis Kemenkes dalam siaran resminya.
Dengan demikian, masyarakat diingatkan untuk lebih waspada. Jangan anggap sepele talenan kayu yang tampak menghitam, karena bisa saja menjadi tempat persembunyian mikroba berbahaya.
Info berita selengkapnya hanya di www.gelanggangnews.com











