Jakarta, GELANGGANG NEWS – Tragedi memilukan terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, saat aksi demonstrasi buruh berujung ricuh pada Kamis (28/8/2025) malam. Seorang driver ojek online, Affan Kurniawan (21), tewas setelah diduga terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob yang tengah melakukan pengamanan. Peristiwa ini segera menuai kecaman luas dari publik dan melahirkan ungkapan pedih: “Rakyat kecil mati dilindas aparat negara.”
Kronologi Insiden
Menurut kesaksian warga, demonstrasi awalnya berlangsung damai. Namun, situasi berubah tegang ketika aparat melepaskan gas air mata untuk membubarkan massa. Dalam kepanikan itu, sebuah kendaraan taktis Brimob berusaha keluar dari lokasi. Affan yang berada di sekitar titik kericuhan terjatuh, lalu terlindas rantis tersebut.
Korban segera dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekitar pukul 19.58 WIB. Sayangnya, nyawa Affan tidak tertolong. Jenazahnya kemudian disemayamkan di rumah duka di kawasan Jakarta Timur.
Gelombang Reaksi
Kematian Affan Kurniawan memicu kemarahan komunitas ojek online. Ratusan driver ojol berbondong-bondong mendatangi Mako Brimob, Kwitang, Jakarta Pusat untuk menuntut pertanggungjawaban aparat. Mereka menyebut insiden ini sebagai bentuk nyata bahwa rakyat kecil mati dilindas aparat negara.
PT Gojek Tokopedia (GOTO) selaku perusahaan tempat Affan bermitra, mengonfirmasi korban adalah bagian dari keluarga besar driver. Pihak perusahaan menyampaikan belasungkawa mendalam, memberikan dukungan untuk proses visum dan autopsi, serta berjanji menyalurkan santunan kepada keluarga.

Di sisi lain, Propam Polri menyatakan sudah memeriksa sejumlah anggota Brimob terkait peristiwa ini. Polisi berjanji akan mengusut tuntas penyebab kematian Affan Kurniawan secara transparan.
Luka Sosial dan Tuntutan Keadilan
Bagi banyak pihak, kasus ini bukan hanya insiden kecelakaan, melainkan simbol kegagalan negara dalam melindungi rakyat kecil. Affan, seorang pemuda pekerja keras yang mencari nafkah sebagai driver ojol, justru kehilangan nyawa akibat aparat yang seharusnya bertugas melindungi.
Sejumlah organisasi masyarakat sipil mengecam keras tindakan represif aparat. Mereka menuntut investigasi menyeluruh agar tidak ada lagi korban jiwa di tengah penyampaian aspirasi. Pengamat hukum juga mengingatkan, jika pola represif tidak dihentikan, maka ungkapan “rakyat kecil mati dilindas aparat negara” akan terus membayangi demokrasi Indonesia.
Kasus Affan Kurniawan menjadi potret betapa rentannya posisi rakyat kecil dalam dinamika sosial-politik. Negara didesak hadir bukan sebagai penguasa yang menindas, tetapi sebagai pelindung yang menjamin keselamatan warganya.
Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, tetapi peringatan keras agar aparat menegakkan prinsip humanis dalam menjalankan tugasnya. Seperti yang kini digaungkan banyak pihak, nama Affan Kurniawan akan selalu diingat sebagai simbol bahwa rakyat kecil mati dilindas aparat negara tidak boleh lagi menjadi kenyataan di bumi demokrasi.
Informasi lebih lengkap mengenai kasus ini dapat diakses di www.gelanggangnews.com.













