Ketum PBNU Minta Maaf, Akui Kurang Cermat Cek Latar Akademisi Pro Israel Peter Berkowitz

GELANGGANG NEWS – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka terkait polemik undangan terhadap akademisi asal Amerika Serikat, Peter Berkowitz. Dalam pernyataannya, Ketum PBNU minta maaf, akui kurang cermat cek latar akademisi pro Israel Peter Berkowitz, dan menegaskan bahwa tidak ada niat PBNU untuk menyakiti perasaan umat, khususnya terkait isu Palestina.

Permintaan maaf ini disampaikan usai mencuatnya kritik dari berbagai pihak yang menyesalkan kehadiran Peter Berkowitz dalam forum akademik yang diselenggarakan oleh institusi yang berafiliasi dengan PBNU. Berkowitz diketahui merupakan akademisi yang kerap menyuarakan pandangan pro-Israel dalam sejumlah tulisannya, termasuk yang berkaitan dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Ketum PBNU minta maaf, akui kurang cermat cek latar akademisi pro Israel Peter Berkowitz, serta mengakui adanya kelalaian dalam proses kurasi pembicara. Menurutnya, proses seleksi pembicara seharusnya melibatkan verifikasi menyeluruh terhadap rekam jejak dan latar belakang setiap individu yang diundang untuk berbicara dalam forum publik.

“Ini menjadi pelajaran penting bagi kami agar ke depan tidak terjadi lagi hal serupa. PBNU tetap berkomitmen pada posisi politik luar negeri Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina,” ujar Yahya dalam konferensi pers di Jakarta.

Respons publik terhadap kehadiran Berkowitz cukup kuat, terutama dari kalangan aktivis solidaritas Palestina dan sebagian warga Nahdliyin yang menilai langkah itu tidak sensitif terhadap konteks geopolitik yang sedang berlangsung. Polemik ini juga menyoroti pentingnya kehati-hatian organisasi keagamaan dalam menentukan arah kebijakan dan kerja sama internasional.

Ketum PBNU minta maaf, akui kurang cermat cek latar akademisi pro Israel Peter Berkowitz juga menjadi sorotan di media sosial. Banyak warganet mengapresiasi sikap terbuka PBNU yang segera merespons kritik dan mengambil tanggung jawab. Namun, tak sedikit pula yang mendorong adanya evaluasi internal agar insiden serupa tidak terulang.

PBNU sendiri menegaskan bahwa forum tersebut bersifat akademik dan tidak mewakili posisi resmi organisasi terhadap isu-isu geopolitik. Meski begitu, PBNU mengakui pentingnya sensitivitas dalam menghadirkan narasumber, khususnya yang menyangkut isu Palestina dan Israel, mengingat posisi Indonesia yang selama ini konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Ketum PBNU minta maaf, akui kurang cermat cek latar akademisi pro Israel Peter Berkowitz menjadi contoh pentingnya tanggung jawab publik dari pemimpin organisasi besar. Dengan permintaan maaf ini, diharapkan PBNU dapat memperkuat kembali kepercayaan publik dan menjaga komitmen moral terhadap nilai-nilai keadilan global.

Untuk berita terkini seputar isu sosial, agama, dan geopolitik, kunjungi www.gelanggangnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *