Washington D.C. – Pemerintah Amerika Serikat kembali menegaskan penolakannya terhadap partisipasi Turki dalam program jet tempur siluman F-35. Keputusan ini diambil lantaran Ankara tetap mempertahankan sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia, yang dianggap mengancam keamanan teknologi militer NATO. AS tetap tolak Turki gabung program jet tempur siluman F-35 karena S-400 Rusia menjadi isu utama dalam pertemuan diplomatik antara kedua negara pekan ini.
Juru bicara Departemen Pertahanan AS, Patrick Ryder, menyatakan bahwa posisi Washington belum berubah. “Selama sistem S-400 masih dioperasikan oleh Turki, kami tidak dapat mengizinkan partisipasi mereka dalam program F-35,” ujar Ryder dalam konferensi pers di Pentagon. Ia menambahkan bahwa teknologi F-35 sangat sensitif dan tidak boleh terekspos oleh sistem pertahanan yang tidak kompatibel dengan standar NATO.
Turki sebelumnya telah dikeluarkan secara resmi dari program F-35 pada tahun 2019 setelah menerima pengiriman sistem S-400 dari Rusia. Namun dalam beberapa kesempatan, Ankara tetap menyatakan keinginannya untuk kembali bergabung. Harapan ini kembali mencuat seiring pertemuan bilateral antara Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan Presiden Joe Biden di sela-sela KTT NATO di Washington.
Namun, hingga saat ini, AS tetap tolak Turki gabung program jet tempur siluman F-35 karena S-400 Rusia, dengan alasan utama menyangkut risiko kebocoran data dan interoperabilitas sistem. Pihak AS khawatir bahwa integrasi sistem S-400 dengan jaringan pertahanan NATO dapat memberikan akses tidak langsung bagi Rusia terhadap informasi vital terkait jet tempur generasi kelima tersebut.

Pengamat militer dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Michael Allen, menyebut penolakan ini sebagai bagian dari strategi keamanan jangka panjang AS. “Keputusan ini bukan sekadar politik, tetapi menyangkut integritas sistem pertahanan udara kolektif NATO,” katanya. Allen menilai, selama Turki tidak membatalkan kontraknya dengan Rusia, sulit membayangkan adanya perubahan kebijakan dari Washington.
Meski demikian, Turki tetap aktif dalam beberapa program alih teknologi pertahanan lainnya dan masih menjadi anggota penting dalam aliansi NATO. Ankara juga telah mengembangkan industri pertahanannya secara mandiri, termasuk proyek pesawat tempur nasional TF-X. Namun, absennya Turki dari program F-35 dianggap sebagai kerugian strategis bagi kedua pihak.
Beberapa negara anggota NATO menyayangkan ketegangan ini, karena Turki sebelumnya merupakan mitra industri yang berkontribusi dalam produksi komponen F-35. Kini, setelah AS tetap tolak Turki gabung program jet tempur siluman F-35 karena S-400 Rusia, sejumlah kontrak pengadaan komponen harus dialihkan ke mitra lain, yang turut memengaruhi efisiensi dan biaya produksi.
Ke depan, posisi AS diperkirakan tidak akan berubah kecuali ada langkah konkret dari Turki untuk melepas sistem pertahanan S-400. Isu ini menjadi salah satu ujian diplomatik paling serius dalam hubungan bilateral kedua negara dalam satu dekade terakhir.
Untuk perkembangan terbaru seputar kebijakan pertahanan internasional, kunjungi www.gelanggangnews.com.

