Jakarta, Gelanggang News — Konser JKT48 bertajuk “Flying High” di Istora Senayan, Sabtu, 26 Juli 2025, menjadi salah satu pertunjukan paling bersejarah—bukan karena meriah, melainkan karena sesuatu yang hilang secara mengejutkan: tidak ada encore.
Padahal, encore bukan sekadar tradisi. Bagi fans dan idol, itu adalah bentuk cinta timbal balik, pengakuan atas kerja keras, dan ekspresi kebahagiaan kolektif. Tapi malam itu, panggung yang semestinya berakhir dengan sorakan dan tepukan tangan, justru ditutup dengan suara tangis dari balik panggung. Sunyi menggema. Haru menyayat. Ada luka yang ditinggalkan.
Protes Senyap yang Mengejutkan
Bukan tanpa alasan. Sejumlah fans menyebut bahwa keputusan untuk tidak menyerukan encore merupakan bentuk protes terencana terhadap manajemen JKT48, yang selama ini dianggap tidak lagi mendengar aspirasi penggemar.
“Konsep JKT48 itu tumbuh dan berkembang bersama fans. Tapi manajemen sekarang lihat fans cuma sebagai angka, sumber pemasukan. Jadi waktu kita putuskan no encore, rasanya campur aduk sih,” ujar CW, salah satu fans yang diwawancarai oleh detikcom, Rabu (30/7/2025).
Demi Member, Bukan Melawan Member
Yang menyakitkan, tentu, adalah para member JKT48. Mereka menjadi pihak yang langsung terkena dampaknya—secara emosional. Salah satu momen paling menyayat terjadi ketika Haruka, mantan member yang kini kembali hadir di atas panggung, menangis karena ajakan encorenya tidak disambut. Tangisannya terekam dan viral, menjadi trending topic sepanjang malam.
Namun menurut CW dan sejumlah fans lain, aksi diam ini bukan serangan ke para member, justru sebaliknya: bentuk sayang dan upaya melindungi mereka.
“Member jadi korban, iya. Tapi kita udah gak bisa diem. Harus ada gertakan keras biar manajemen sadar. Kita bukan mesin uang. Kita bagian dari perjalanan mereka juga,” tegas CW.
Ketegangan yang Melebar: Dari Istora ke Media Sosial
Protes tak berhenti di arena konser. Di luar area Istora, fans membentangkan poster-poster besar berisi kritik pedas ke JKT48 Operation Team (JOT). Salah satu tulisan yang mencolok berbunyi: “JOT Cuma Peduli Duit, Bukan Idol dan Fans.”
Di media sosial, hastag seperti #NoEncoreJKT48, #SaveJKT48, dan #JOTBerbenah menjadi trending. Banyak netizen—termasuk fans veteran—menyuarakan kekecewaan yang telah lama terpendam: soal sistem tiket, sistem pendukung, transparansi, hingga arah grup yang dianggap tak lagi seperti dulu.
Akhir yang Menggantung
Konser itu akhirnya ditutup dengan suara member dari balik panggung, mengucapkan terima kasih dengan isak tangis. Tidak ada lagu penutup, tidak ada senyum lebar sambil melambai. Yang tertinggal hanyalah suara hati yang tak sempat tersampaikan di depan panggung.
Sebuah penutupan yang berbeda. Mungkin menyakitkan. Tapi juga sangat jujur.
JKT48 di Persimpangan Jalan
Aksi “no encore” ini bukan sekadar insiden sesaat. Ini adalah gambaran retaknya komunikasi antara fandom dan manajemen. Sekaligus tanda bahwa fans, yang selama ini dikenal setia, kini menuntut lebih dari sekadar merchandise dan show.
JKT48 tumbuh dari prinsip “idola yang dapat dijumpai”. Tapi jika suara fans tidak lagi didengar, lalu siapa yang benar-benar dijumpai?
Kini, bola ada di tangan manajemen. Apakah mereka akan introspeksi, mendengarkan, dan memperbaiki? Atau justru mengabaikan—dan membiarkan retakan ini tumbuh jadi jurang?
Untuk liputan seputar dunia hiburan, fandom, dan budaya pop Indonesia, ikuti terus di www.gelanggangnews.com — suara milenial dan gen Z yang bukan cuma nonton, tapi juga berpikir.

