“Yesus” Ditahan di AS, Komunitas Gereja Berjuang Demi Pembebasannya

Seorang imigran asal Venezuela bernama Jesus Teran ditahan oleh otoritas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) setelah pemeriksaan rutin di Pittsburgh pada 8 Juli lalu. Penangkapannya menarik perhatian luas bukan hanya karena latar belakangnya sebagai tukang kayu dan pekerja komunitas, tapi juga karena namanya: “Yesus”.

Kasus ini mengundang simpati dari berbagai komunitas gereja di wilayah Imperial, Pennsylvania, tempat dia tinggal dan beraktivitas. Banyak pihak menilai bahwa penahanannya mencerminkan sisi keras dari kebijakan imigrasi AS yang berdampak pada individu yang justru telah terintegrasi dan memberi kontribusi positif bagi masyarakat.

Baca juga berita terkini lainnya di www.gelanggangnews.com.


Tanpa Rekam Kriminal, Tapi Tetap Ditahan

Jesus Teran (35), seorang insinyur sipil yang bekerja sebagai tukang kayu, dilaporkan tidak memiliki catatan kriminal. Setelah ditahan, ia dipindahkan dari Penjara Regional di West Virginia ke Pusat Pemrosesan Moshannon Valley, fasilitas yang dikelola oleh kontraktor swasta GEO Group.

Menurut laporan media lokal Observer-Reporter, tidak ditemukan catatan pelanggaran hukum oleh Teran di database ICE hingga akhir Juli. Dia pertama kali tiba di AS tahun 2021, setelah sempat ditolak masuk pada tahun 2015, demi mencari suaka dan menyatukan kembali keluarganya yang telah berada di AS.


Dukungan Komunitas dan Gereja Mengalir

Kehadiran Teran begitu dikenal di lingkungan lokal, terutama di Gereja Our Lady of the Miraculous Medal, tempat ia dan keluarganya rutin beribadah. Pastor Jay Donahue dari Paroki St. Oscar Romero menyampaikan bahwa Teran selama ini selalu mengikuti aturan, termasuk kewajiban hadir rutin di kantor imigrasi.

“Ia sudah mematuhi semua aturan, tidak pernah mangkir dari pertemuan dengan ICE. Namun tiba-tiba, ia ditahan. Ini sungguh memilukan,” ungkap Donahue.


Lebih dari Sekadar Tukang Kayu

Selain aktif di gereja, Teran juga dikenal karena kontribusinya dalam kebun komunitas lokal, tempat ia membantu memperbaiki alat, menyiram tanaman, dan melibatkan keluarganya dalam kegiatan sosial. Salah satu putrinya bahkan dikenal sering membagikan jus semangka kepada para sukarelawan.

“Dia bukan hanya bekerja di sini, tapi membangun kehidupan. Dia memberi makna pada komunitas ini,” kata Chris McAneny dari organisasi sosial Wellness Collective.

Teran juga sempat bekerja sebagai pengemudi pengantar barang hingga akhirnya mendapat tempat magang sebagai tukang kayu profesional pada musim dingin 2024.


Kampanye Pembebasan dan Respons Politik

Lebih dari 20 surat dukungan, termasuk dari tokoh gereja dan buruh, telah dikirimkan ke otoritas terkait. Kampanye donasi seperti GoFundMe juga digalakkan untuk membantu kebutuhan keluarga Teran selama ia dalam tahanan. Bahkan, mantan anggota Kongres Pennsylvania Conor Lamb angkat suara, menyebut situasi ini “gila” karena menahan seseorang dengan kehidupan dan kontribusi yang nyata di tengah masyarakat.


Harapan Masih Ada

Saat ini, pengacara Teran tengah mengajukan permohonan pembebasan ke pengadilan. Namun hingga kini, keluarganya hanya bisa berkomunikasi melalui panggilan telepon yang mahal dan terbatas, karena belum diizinkan menjenguk secara langsung.


Kisah Jesus Teran menjadi cermin kompleksitas wajah kebijakan imigrasi Amerika, sekaligus menggugah solidaritas dari masyarakat yang mengenalnya secara langsung.

Untuk mengikuti perkembangan cerita ini dan berita internasional lainnya, kunjungi www.gelanggangnews.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *