GHF Ngotot Lanjut Distribusi Bantuan di Gaza Meski 600 Warga Tewas

Gaza Humanitarian Foundation (GHF) bersikukuh tetap menjalankan operasinya menyalurkan bantuan makanan di Jalur Gaza, meski menuai desakan dari berbagai pihak untuk menghentikan kegiatan tersebut. Desakan muncul menyusul laporan tewasnya sekitar 600 warga Gaza saat mengantre bantuan makanan yang didistribusikan oleh GHF.

Yayasan yang berbasis di Amerika Serikat dan mendapat restu dari Israel ini menjadi satu-satunya lembaga yang diizinkan secara resmi menyalurkan bantuan di wilayah konflik tersebut. Namun, kehadiran GHF semakin menuai sorotan negatif karena insiden berdarah yang terus berulang.

“Kami tidak akan tutup. Tugas kami sangat jelas—menyediakan makanan gratis setiap hari untuk rakyat Gaza,” tegas Ketua GHF, Johnnie Moore, dalam konferensi pers di Brussels, dikutip dari AFP, Rabu (3/7).

Moore membantah keterlibatan militer Israel dalam penembakan warga yang mengantre bantuan, kendati laporan dari berbagai media, video lapangan, hingga pengakuan militer Israel sendiri menyebutkan sebaliknya. Ia juga mengklaim bahwa lokasi distribusi GHF tidak pernah mengalami kekerasan.

Meski begitu, klaim tersebut dibantah keras oleh berbagai organisasi kemanusiaan. Kantor HAM PBB, WHO, dan Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontières) menyampaikan laporan bahwa militer Israel secara aktif menembaki warga Gaza di titik-titik distribusi bantuan, mengakibatkan ratusan korban jiwa.

Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, sejak GHF mulai beroperasi pada 27 Mei 2025, setidaknya 600 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.100 orang terluka akibat kekacauan di lokasi distribusi bantuan. WHO bahkan mencatat bahwa 500 dari mereka tewas di sekitar titik distribusi GHF.

Laporan PBB menegaskan bahwa GHF dianggap melayani tujuan politik dan militer Israel, serta melanggar prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Akibatnya, badan-badan PBB dan organisasi bantuan global menolak bekerja sama dengan GHF.

Di tengah kontroversi tersebut, publik juga mempertanyakan transparansi pendanaan yayasan ini. GHF diduga beroperasi dengan dukungan penuh dari pemerintah Amerika Serikat dan Israel, meskipun banyak suara internasional yang menuntut penghentian aktivitas mereka.

“Setiap hari kami menyaksikan langsung warga sipil terbunuh dan terluka saat berusaha mendapatkan bantuan makanan,” ungkap pernyataan resmi Doctors Without Borders.

Meskipun tekanan internasional kian meningkat, hingga saat ini GHF tetap menjalankan operasi mereka dengan alasan “kemanusiaan”. Namun, dengan semakin banyaknya korban, seruan global agar GHF dibubarkan pun semakin menguat.

Baca berita lengkap dan lainnya hanya di:
https://gelanggangnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *