Dua unit early warning system (EWS) milik Pos Pengamatan Gunung Semeru dilaporkan rusak setelah terdampak awan panas guguran yang terjadi pada Senin malam. Kerusakan ini menyebabkan sistem peringatan dini tidak dapat berfungsi optimal, sehingga pemantauan aktivitas vulkanik Semeru harus dilakukan secara manual oleh petugas Badan Geologi. Menurut laporan lapangan, perangkat sensor dan panel komunikasi pada EWS mengalami gangguan serius karena hantaman material vulkanik panas yang meluncur dari puncak gunung.
Petugas pos pantau menjelaskan bahwa kerusakan ini terjadi di dua titik pemantauan yang berada dalam radius area terdampak. Akses menuju lokasi pun masih terbatas akibat endapan abu tebal dan kondisi medan yang belum sepenuhnya aman. Badan Geologi memastikan pihaknya telah menyiapkan langkah cepat berupa peninjauan ulang lokasi, perbaikan peralatan, serta pemasangan unit sementara untuk menjaga kelancaran pemantauan aktivitas Semeru yang masih berstatus Level III (Siaga).
Sementara itu, warga di sekitar lereng Semeru diminta tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi dari pemerintah daerah. Pihak BPBD Lumajang juga terus melakukan patroli lapangan, pemutakhiran data sebaran abu, serta memastikan jalur evakuasi tetap dapat diakses. Gelanggang News mencatat bahwa kejadian ini menambah daftar korban infrastruktur yang terdampak dalam siklus erupsi Semeru tahun ini.
Hingga kini, aktivitas vulkanik Semeru masih menunjukkan peningkatan, ditandai oleh letusan berulang serta luncuran awan panas yang sporadis. Pemerintah menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat dan meminta agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif. Perbaikan alat EWS menjadi prioritas untuk memastikan peringatan dapat diterima warga secara cepat dan akurat.
Selengkapnya kunjungi: www.gelanggangnews.com

