Kyiv, 29 Agustus 2025 – Situasi di Ukraina kembali memanas setelah serangan besar-besaran yang diluncurkan oleh militer Rusia pada Rabu malam waktu setempat. Serangan tersebut melibatkan puluhan drone dan rudal Rusia bombardir Ukraina, termasuk serangan langsung ke wilayah ibu kota, Kyiv. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menyebut serangan tersebut sebagai “malam yang mengerikan” bagi warga ibu kota.
Menurut laporan dari militer Ukraina, sedikitnya 20 rudal dan 15 drone tempur tipe Shahed diluncurkan oleh pasukan Rusia. Sebagian besar proyektil tersebut berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Namun beberapa di antaranya menghantam infrastruktur penting, termasuk fasilitas energi dan bangunan tempat tinggal.
“Ini adalah salah satu malam terburuk sejak invasi dimulai. Drone dan rudal Rusia bombardir Ukraina, dan Kyiv menjadi salah satu target utamanya,” ujar Klitschko dalam pernyataan pers yang disiarkan oleh media lokal. Ia menambahkan bahwa sedikitnya tujuh orang terluka, dua di antaranya dalam kondisi kritis.
Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut serangan ini sebagai bagian dari gelombang ofensif yang meningkat menjelang musim dingin. Tujuan utamanya adalah melumpuhkan pasokan listrik dan logistik warga sipil. Serangan drone dan rudal Rusia bombardir Ukraina juga dilaporkan terjadi di wilayah Kharkiv, Odessa, dan Lviv.
Pemerintah Rusia hingga saat ini belum memberikan komentar resmi terkait eskalasi terbaru ini. Namun, sejumlah analis menilai bahwa serangan itu merupakan respons atas peningkatan bantuan militer dari Barat kepada Ukraina, termasuk pengiriman rudal jarak jauh dari AS dan sistem pertahanan udara tambahan dari Jerman.

Peristiwa drone dan rudal Rusia bombardir Ukraina kembali menyoroti dampak kemanusiaan yang besar dari konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun ini. Ribuan warga kembali mengungsi, sementara layanan darurat terus bekerja keras mengevakuasi korban dan membersihkan puing-puing bangunan yang hancur.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengecam serangan tersebut dan menyatakan bahwa Rusia tidak akan berhasil melemahkan semangat perlawanan rakyat Ukraina. “Mereka mencoba menciptakan ketakutan, tapi kami tidak akan mundur. Ukraina akan bertahan,” ujarnya dalam pidato malam.
Komunitas internasional pun mulai bersuara. Sekjen PBB, António Guterres, menyerukan agar semua pihak menghentikan serangan terhadap wilayah sipil dan mematuhi hukum humaniter internasional. Negara-negara Eropa seperti Prancis dan Inggris juga menyatakan kecaman atas serangan tersebut.
Dengan drone dan rudal Rusia bombardir Ukraina semakin sering terjadi, masyarakat dunia diingatkan bahwa konflik ini jauh dari kata usai. Ancaman terhadap warga sipil terus meningkat dan situasi di medan perang tetap dinamis serta penuh risiko eskalasi lebih luas.
Untuk laporan lebih lanjut tentang situasi terkini di Ukraina dan perkembangan internasional lainnya, kunjungi www.gelanggangnews.com

